TEKNOLOGI
Pernah membayangkan sehari hidup tanpa teknologi?
Tanpa laptop? Tanpa email? Tanpa situs sosial media?
Tanpa handphone? Tanpa blackberry?
Putus hubungan komunikasi sama-sekali dengan
orang-orang yang berkepentingan dengan kita,
maupun orang yang penting artinya buat kita.
Saya mencobanya.
Ada yang percobaan terpaksa.
Ada yang terkategori percobaan sukarela.
Apapun jenis percobaannya, kesimpulan saya tetep sama.
Rasanya gak enak!
Ke kantor tanpa laptop itu, analoginya ibarat sayur
tanpa garam.
Minum es teh gak pake sedotan.
Kaya ada yang ganjil. Ada yang ilang.
Dan rasa-rasanya mendadak ada begitu banyak hal
penting yang kudu dilakukan, dan membutuhkan laptop.
Lebih parahnya lagi adalah, kalo peristiwa sehari
tanpa laptop itu, dilakukan ga cuma oleh saya.
Tapi, rame-rame berbelasan orang sekantor. Aaaak!
Rasanya jadi histeris giliran liat PC kosong.
Oke. Mungkin ini lebay, karena saya menanggalkan
laptop dari rutinitas karena terpaksa.
Lebih tepatnya, dipaksa oleh isu audit software, yang
hukumannya denda 150 juta.
Nah, kasus ke dua.
Saya lagi sepakat, untuk in trial kembali
zaman penjajahan dengan teman saya.
Komunikasi tanpa teknologi mutakhir.
Tanpa bbm. Ga pake sms. Ga boleh telponan.
Pokoknya, mari budayakan menulis dan membaca!
Mari berantas budaya komunikasi instan!
Mari memasyarakatkan kembali surat-suratan lewat pos
indonesia!
Aaakkkk.
Sumpah! Percobaan sukarela pun menyiksa, sodara..
Lalu, saya pun jadi mikir, seberapa berarti,
seberapa berpengaruh,
dan seberapa tergantung hidup saya pada teknologi?
Apa iya hidup saya jadi sedemikian hampanya jika tanpa
laptop,
tanpa update status,
tanpa blackberry?
Sebenarnya esensi kehampaan dan kehilangan saya itu,
lebih disebabkan apanya?
Kehilangan alat teknologinya kah...
-->
perangkat laptop, BB, handphone?
Kehilangan aktivitasnya kah...
--> mengetik, kirim email, utek-utek BB,
kirim-kirim sms?
Atau kehilangan komunikasi nya sendiri...
--> jadi ga
bisa terkoneksi dengan orang yang sedang berurusan dengan saya,
--> jadi ga
bisa menghubungi orang yang sangat ingin saya ketahui kabarnya,
Hhhhmmmm...
Atau sebenarnya, yang bikin ganjil adalah perasaan
ketika sesuatu yang biasanya,
bisa saya lakukan dengan instan dan cepat?
Tiba-tiba sekarang butuh proses lebih lama, butuh
lebih banyak daya upaya, butuh kesabaran ekstra?
Aaaakkk. Teriak.
Surabaya, 05/06/2012
20.40
Komentar
Posting Komentar