Postingan

Nasi, Sayur Sawi, dan Martabak Hari Ini.

Gambar
Cerita tentang nasi, sayur sawi, dan martabak hari ini. Tentu, aku paham maksud baik dari makanan yang tersaji. Disitu ada kepedulian seorang ibu.  Disitu ada kasihnya dan perhatiannya untukku. Tapi, jujur, saat kubuka hidangan, aku menghela napas panjang juga. Bukan, bukan, karena aku tidak menghargainya.   Aku tentu bersyukur atas makanan di depanku. Hanya, merasa frustasi bagaimana cara membuat ibuku mengerti, bahwa aku sedang diet.  Aku menghindari nasi yang sebanyak itu. Aku tidak ingin makan gorengan martabak seperti yang disajikan itu karena sedang berusaha anti minyak. Aku suka sayur sawinya, walau itu sangat asin , seperti masakan ibuku yang lain yang selalu asin. (but hey, i appreciate that, karena ibuku memasak saja itu sangat langka. dan mengingat beliau jauh-jauh datang ke tempatku demi mengantarkan makanan, bagaimanapun itu membuat hati seorang anak bergetar, bukan? ) Tidak memakannya membuatku merasa seperti anak durhaka dan tidak tahu terimakasih. Memakann...

MEMILIH

Di usia yang sudah lebih dari 30 tahun ini, rasa-rasanya ada 1 skill yang aku masih kurang banget. Masih perlu banyak belajar. Masih perlu banyak berlatih. Yaitu skill dalam mengambil keputusan atau decision making. Aku sangat kesulitan untuk mengambil keputusan, dalam hal kecil - kecil, hingga hal besar. Sebuah cerita ketika aku mencari hampers imlek yang akan diberikan ke rekan kerja beberapa waktu lalu. Aku sebenarnya sudah survei berbagai pilihan sejak sebulan sebelumnya. Scroll instagram, like, saved. Scroll shopee, like, masukin keranjang, walaupun belum dicheck out, wkwk. Scroll tokopedia. Scroll lazada, dan melakukan hal serupa. Waktu sebulan itu aku habiskan untuk koleksi berbagai pilihan reed difuser dan candles yang pikirku akan kuberikan sebagai hampers. Cocok-cocokin budget, lokasi kirim, baca reviewnya dsb. Hinggaaaaaa.. Imlek semakin dekat dan aku belum bisa memilih reed difuser dan candles mana yang mau kukirim ke para teman. Sementara itu, aku sudah mulai menerima berb...

COBA DIET TYA ARIESTYA

Gambar
Ceritanya, timbanganku jadi 'kanan' banget, mencapai 61,3 kg yang rekor banget untuk aku yang biasanya rata rata 57- 58 kg aja. Memang sih, kalo dari penampakan visualnya dengan tinggi badan 164 cm, berat 61,3 kg itu masih ga gendut-gendut banget juga. Cuma, sebagai pemilik badan, ya berasa lah. Pipi menchubby. Perut maju. Lengan gede. Susah gerak. Cepet capek. Demikian. Plus sedih karena baju berasa sesak, celana ga muat lagi. Sebenarnya, aku cukup tau sih , asal-muasal menjadi 61,3 kg itu. Uda dimulai penyebabnya sejak Desember dimana aku makannya ngawur bin sembrono. Pagi skip sarapan. Trus siang makannya menggila. Nah, menggila ini kenapa? tak lain karena aku ngerasa laper, dan ditambah porsi catering makan siang yang aku langganan itu porsinya lumayan kecil. jadi akhirnya aku bakal nambah gofood 1x lagi , or beli cemilan macam seblak, jasuke, pempek, dan temen-temennya. Double makan, triple kalori, karena cemilannya itu ga sehat dan goreng goreng , manis manis semuanya. Ha...

BERGERAK

Aku tidak tahu korelasinya. Mungkin ada. Mungkin juga, sebenarnya tidak ada korelasi apa-apa. Tapi, pernah kah kalian merasa, bahwa bergerak membantu kita berpikir. Bergerak membantu kita untuk melakukan hal-hal yang jika kita diam dan pikirkan saja, terasa lebih berat, lebih seram, lebih menakutkan. Membayangkan berjalan selama 45 menit setiap hari rasanya kok lama dan lelah. Padahal, ketika sudah melakukannya, ternyata tidak selama itu, tidak sesulit itu, tidak secapek itu. Membayangkan membersihkan rumah yang sudah berdebu, dan berkerak, kok rasanya sulit. Padahal, ketika sudah melakukannya, ternyata ya selesai juga. Membayangkan menulis blog lagi seperti ini kok rasanya sulit dan bakal gak tahu mau nulis apa. Padahal, ketika sudah mulai mengetik, ya lancar-lancar aja. Tidak terasa ini sudah kata ke berapa. Dan sudah hampir jadi saja sebuah tulisan. Barangkali memang seringnya kita perlu membiarkan gerak terjadi dulu, baru kemudian berpikir. Bergerak dulu membantu kita menyadari bah...

Waktu Luang

Tiba-tiba saja pertanyaan menggelitikku. Saking tidak terbiasanya selo dan nganggur. Bahkan di hari Minggu, masih ada agenda yg aku punya. Tapi hari ini tanpa agenda, tanpa rencana, dan aku kebingungan. Setelah mandi siang dan sambil pake bedak lipgloss ala kadar, jadi terbersit pertanyaan. "Jika sedang tidak bekerja, maka aku sedang apa?" Kegiatan apa yg cukup kunikmati di waktu luang, tapi juga produktif? Ngedrakor. Makan. Scroll sosial media dan kepo story orang. Nonton youtube. Kok dari list di atas itu, rasanya kegiatan luangku useless dan ga berarti ya... Pasif dan aku sebatas penikmat saja. Hari ini sedang malas banget buat males-malesan untuk mengisi waktu selo ini. Bikin tulisan yang cuma beberapa kata ini, lebih produktif kan ya? Hehe. Dan mungkin mau baca buku saja.. Tunggu, Baca buku itu jauh lebih aktif dalam proses berpikir, daripada menonton kan?? Hmmm... Atau sebetulnya, ya sudahlah nikmati saja, masa-masa selo dimana tidak sedang bekerja dan...

Tulang Rusuk

Di pagi minggu ini, Putri bergegas pergi, Ia tergesa-gesa, Berlari mencari tulang rusuknya. Pikirnya, Mungkin ada di masa lalu, Namun dulu tidak dia sadari. Bisa jadi bersembunyi di masa kini, Di ruang dan waktu yang biasa dia temui. Atau mungkin di masa depan, Bersanding dengan harapan? Putri terus mencari. Hingga petang datang. Lelah. Lalu Ia berpasrah. Mungkin tulang rusuk bukan buat dicari, Karena jika sudah saatnya menemukan, Ia akan datang, Begitu saja. Bukakah seringnya, kita mendapat justru ketika kita tak mengharap? Minggu, 11 Agt 2019 Nb : inspirasi dari cuitan wa story teman di hari idul adha.