Menulis!
Oke. Sebut ini latah.
Sebut ini gampang terpengaruh. Sebut ini ikut-ikut.
Saya gak akan
membantah, ato menyangkal. Karena, ya emang ini ikut-ikut kok.
Emang saya latah
terpengaruh teman saya kok.
Tapi, mari-mari demi
menghindari aura negatif, sebut saja saya melakukan ini karena terinspirasi.
Aaakk! Ema.. *gapapa
kan ya, sebut merk disini, hehehe* 30 hari menulismu menginspirasiku untuk
melakukan hal yang sama.
Dan berhubung ini
tanggal 1, dan bulan Juni pas ada 30 hari, maka tampaknya, ini adalah waktu
yang tepat untuk memulai tantangan ini.
Yup! Tantangan buat
menulis, secara konsisten, secara bebas dan tentu, jujur.
Kalo selama setahun,
bertahun-tahun belakangan ini malahan, saya ga pernah lagi nulis dengan rutin
dan konsisten. Semoga project 30 hari menulis ini, 'memaksa' saya buat
melakukannya.
Anggap saja, saya
sedang menantang diri saya sendiri.
Anggap saja, ini
project pribadi yang uda saya mulai, dan oleh sebab itu, kudu saya selesaikan.
Anggap ini sebagai
pengembaraan selama 30 hari untuk saya bertemu dengan diri saya lagi, mengenali
cara kerja otak dan hati saya sendiri, yang merdeka, berdaulat, dan tanpa
intervensi.
Apakah saya akan
bisa? Apa saya bisa konsisten dalam 30 hari ini?
Mari dicoba. Yang
sudah diniatkan, harus dilakukan, Eka. =)
Jadi, saya akan mengawali 30 hari menulis ini dengan
MENULIS.
-.- hahahaha..
Topiknya sungguh sesuatu ya.. Tapi, ya gapapa kan ya?
Saya sendiri juga
yang nulis kok ya. Hahahaha...
Bagi saya, menulis adalah..... Ayo eka, definisikan saya dalam 1 kata.
*okeee... Ini buat
mendefinisikan apa itu menulis, saya butuh mikir..Ngg..*
Dan akhirnya,,,
Bagi saya, menulis adalah perjalanan.
Satu kata yang saya
pilih, untuk mendefinisikan menulis, adalah perjalanan.
Journey. Sebuah kata
maha luas dan maha arti juga kan ya?
Dalam perjalanan itu
terdapat beragam komponen yang mengisinya.
Pengalaman. Proses.
Penghiburan. Penyembuhan. Pelampiasan. Pencarian. Pengenalan diri.
Menulis adalah
perjalanan. Dan perjalanan adalah satu demi satu kata yang saya sebut di atas,
maupun yang belum saya sebut dan sadari saat ini.
Pengalaman.
Pengalaman menulis
saya diawali dengan menulis nama saya. EKA. Tiga huruf yang diajarkan mama saya
pertama kali. Sepertinya saya berusia 3 tahun saat mulai diajari menulis nama.
Dan, sepertinya pengalaman menulis pertama itu terjadi di meja kasir toko bangunan
milik papa. Hehehe..
*oke.menulis angka
1-10 tidak disebut sebagai pengalaman menulis pertama karena itu mengangka, dan
menulis dalam definisi ini adalah menghuruf. Yang tidak setuju dengan pendapat
saya, tidak apa-apa, itu hak anda, tapi maaf, saya tidak menerima protes. Hahaha..
Selanjutnya, sejauh
yang saya ingat, menulis selalu menjadi pengalaman yang 'menyenangkan'.
Saya ingat, saya
merengek untuk dibelikan buku garis halus di hari pertama diajari menulis a di
TK.
Saya ingat, saya
selalu mempersiapkan tulisan untuk pelajaran maupun ulangan mengarang di SD
dengan sungguh-sungguh. Maksudnya disini, misalnya besok pelajaran mengarang
dengan topik 'keluargaku' *topikyanganakSDbangetwaktuitu* maka malamnya saya
akan membuat kerangka tulisan.
Ooh! Sambil menulis
ini, saya jadi kembali berjalan ke masa SD, lalu sadar, bener2 ngeh, sadar,
I LOVE WRITING since i was a child.
Proses.
Proses menulis saya
benar-benar dimulai waktu kelas 5 SD. Saya ga ingat dan ga tahu gimana awal
mula cerita, kok saya bisa punya buku diary. Tapi, saya punya diary pertama
saya waktu kelas 5 SD. Dan, saya suka menulis diary saya dengan bolpen faster
warna biru. Oh my! Diary saya masih ada di lemari kamar di rumah, dengan
huruf-huruf yang sekarang sudah menguning.
Dan ya, saya percaya.
Menulis pastilah sebuah proses.
Tulisan saya
pertama-tama di diary, gak lebih dari 5 kalimat dalam 1 paragraf.
"Halo diari.
Hari ini aku ikut paduan suara di gereja. Dan kotbah pendetanya lama, sampai
aku bosan." Juz it. Cuma itu.
Lalu, dari beberapa
kata yang patah-patah, berproses menjadi kalimat-kalimat yang lebih panjang.
Terus, terus
berproses menjadi paragraf-paragraf, berlembar-lembar, berhalaman-halaman. Agak
amazing juga sekarang, mengingat misalnya kok niat banget gitu ya, menulis 80
halaman di HVS kuarto polos an selama masa SMP, demi membuat cerpen. Itu adalah
proses, dalam hal kuantitas jumlah kata yang ditulis ya.
Secara kualitas,
nggg, saya gak pede buat bilang tulisan saya berkualitas. Namun, adalah juga
sebuah proses yang kudu diapresisasi, paling gak oleh diri saya sendiri. Dari
tulisan yang mulanya hanya tentang
kegiatan sehari-hari, berkembang menjadi artikel di majalah sekolah,
artikel di koran kampus, tulisan buat melamar-lamar beasiswa, tulisan riset
penelitian, hingga prestasi tertinggi tulisan berjudul Skripsi. Semoga saya
masih bisa menulis terus sampai saya tua, amin.
Kembali ke diary.
Ibaratnya film, maka diary adalah tokoh sentral
dalam perjalanan menulis saya.
Cukup berdesir juga
rasanya, mengingat ada 10 seri buku diary yang saya miliki, sampai sekarang.
Dan, hhmm, gak tahu
ya, saya merasa kudu menulis ini disini, saya bersyukur punya orang tua yang
gak rese dengan kebiasaan menulis diary saya.
Diary itu kan
tumpahan segala perasaan kan ya.
Mulai sebel sama
temen, benci sama guru, jatuh cinta jatuh cintaan, kesel dimarahin ortu, niat
jahat, dan niat baik, dan blablabla.
Nah sekarang ini,
kebayang gak se, kalo saya punya orang tua yang nyebelin suka curi-curi baca
diary, kemudian bereaksi terhadap yang saya tulis? Kira-kira, apa saya akan
menghasilkan karya 10 seri diary berderet, yang isinya ditulis dengan kemerdekaan tiada tara? Hehehehehe...
For your information,
diary saya tanpa gembok. Dan saya menuliskan semuanya. Dan meletakkannya
sembarangan. Mustahil rasanya, kalo mama ato papa saya ga pernah tergelitik
buat membaca dan mengetahui apa yang sedang menggelisahkan hati putri mereka
satu-satunya. Hhmmm.. Tapi, biarlah misteri ini tetap menjadi teka-teki, saya
ga tahu apa ortu saya emang bener2 ga pernah membaca diary saya. Tapi, kalaupun
mereka membaca, saya bersyukur mereka keep in their secret! Saya bersyukur,
karena mereka sampai detik ini, gak pernah memberikan komentar tentang apa yang
saya tulis. Lebih dalam lagi, saya bersyukur
mereka memberi saya kepercayaan dan ruang buat kemerdekaan saya menulis. Ooohh!
Love u mama, Love u papa. =)
Ini tulisan saya uda
melantur kemana-mana, tapi biarlah, hahahaha. Saya menikmatinya.
Pelampiasan. Penghiburan. Penyembuhan.
Saya ingat, waktu
interview dengan bapak peri baik hati, haha, itu sebutan buat bos besar saya
yang dulu mewawancara untuk pekerjaan saya yang sekarang, saya sempat ditanya:
"Apa yang akan
kamu lakukan jika kamu marah atau merasa tertekan?"
*hening sejenak
sebelum saya mantap menjawab*
"Menulis."
Terima kasih kepada
sesuatu di bumi ini yang dinamai tulisan. Bagi saya, menulis adalah pelampiasan
emosi, baik positif maupun negatif. Menulis adalah kegiatan menghibur diri
waktu saya sedih. Menulis adalah kegiatan menyembuhkan diri dari sakit hati, dari
rasa takut, dari putus asa. Lewat menulis, saya menyemangati diri sendiri. Saya
diberi kesempatan untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari sudut pandang
berbeda. Istilah kerennya, saya diberi ruang buat mencoba 'sok' bijaksana.
Saya gak tahu
seberapa jawaban 'menulis' saya membawa dampak bagi penilaian yang bapak peri
hati berikan pada saya. Apakah itu membuatnya menilai saya sebagai orang yang
tertutup?
Apakah itu membuatnya
menilai saya sebagai orang yang cukup kuat untuk berada di kondisi high
pressure? Apapun itu, Menulis adalah pertolongan
pertama yang bisa saya berikan bagi diri saya sendiri.
Dan, saya berterima kasih, karena saya berdaya
melakukannya.
Pencarian dan pengenalan diri.
Singkatnya, untuk
saya, menulis adalah dialog yang melibatkan seluruh pikiran dan perasaan
tentang suatu topik. Saat menulis, suka atau gak suka, saya terpaksa kudu
mempertemukan pikiran dan perasaan saya dengan berbagai tabrakan. *okee
bahasaku mulai berat*
Tabrakan ini sebut
saja, budaya yang saya anut, plihan yang saya percayai, pengetahuan yang saya
miliki, pengalaman hidup saya, dan norma masyarakat yang mau gak mau akan masuk
dalam pertimbangan pikiran dan perasaan saya. Hmmm..
Dalam deskripsi
menulis sebagai pencarian dan pengenalan diri, saya suka merasa bahwa menulis
terasa sangat menekan. Nggerus. Dan, kalo
udah sampai pada tahap menulis itu nggerus, maka rasanya kaya butuh perjuangan
yang super berat gtu untuk menyelesaikan tulisan yang sudah dibuat.
Hmmm.. Terasa tidak?
Bahwa di bagian ini, saya mulai merasa kesulitan buat menulis?
*tarik napas.
Karena itulah, saya
menyebut menulis adalah proses pencarian dan pengenalan diri.
Perjuangan
menyelesaikan tulisan, adalah sama kerasnya dengan perjuangan buat mencari dan
mengenal diri sendiri.
Dan, sama seperti
proses pencarian dan pengenalan diri yang acapkali melelahkan, habis energi di
tengah jalan. Begitu pula menulis.
Dan, sama seperti
proses pencarian dan pengenalan diri itu gak gampang.
Begitu pula, bagi
saya, menulis juga ga pernah mudah.
Namun, meski sesulit
apapun, ya balik lagi, menulis adalah perjalanan.
Walopun kesandung
kerikil di tengah, kaki pegel, sepatu robek.
Walopun terseok-seok
dan sampai ngesot-ngesot,
Perjalanannya sudah
dimulai, maka harus diselesaikan.
Surabaya, 01/06/12
20.06
*Last, but not least.
Menulis adalah
berdoa. Tulisan adalah doa yang dipanjatkan tanpa suara.
Seperti doa yang
selalu baik, Semoga tulisan ini bisa membawa kebaikan bagi para pembacanya.
Scripta Manent. Amen.
Komentar
Posting Komentar