Addicted in Pain


Kalau ada yang selalu bikin takjub selama di jalanan Surabaya ini,

Itu adalah ketanggapan, ketangkasan, dan kenekadan pengguna motornya.



Aje gile!

Gak ada tuh, saya pernah lihat lampu merah yang motornya berderet rapi, ngantri, di belakang marka putih.

Selalu menjadi yang terdepan.

Maju! Maju! Sampai di batas yang paling edan.



Aje gile yang lainnya lagi,

Sering banget. Ringg bangeet.

Saya ketemu pengendara-pengendara motor yang nekad nyelonong aja, ketika jalan dari arah berlawanan cukup sepi. Padahal, jelas-jelas lampunya masih merah.



Kalau kejadian-kejadian seperti itu, terjadi di depan mata saya,

Saya cuma mikir aja.

Mikir takjub.  "Itu orang-orang gak sayang nyawanya apa ya?"



Kenapa dengan rela hati, menyodorkan diri menerobos lampu merah?

Kenapa dengan suka cita, dan kesadaran penuh mengambil posisi lewat dari marka putih lampu lalu lintas?



...



Dan, di tengah asyiknya nulis tentang cerita jalanan Surabaya ini.



Saya tiba-tiba kaya ngerasa ditampar dan ditabok.



Plak! Plak!



Saya ingat kata-kata sahabat saya sejak SMP, dalam menanggapi kegalauan saya akhir-akhir ini.



Singkat.

Padat.

Nusuk.



You are addicted in pain, Ka.



...



Mungkin saya juga sedang dengan rela hati, menyodorkan diri, menerobos norma dan semacamnya.

Mungkin saya juga sedang dengan suka cita, dan kesadaran penuh mengambil posisi  dan pilihan yang keluar jauh dari batas marka putih yang seharusnya.



Mungkin sahabat saya sedang mikir takjub, "Ini si Eka gak sayang diri dan hatinya apa ya?"



...





Fiuft.


Masih terngiang-ngiang,


You are addicted in pain, Ka.

 
Am I?





Surabaya, 21/06/12

23.41

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads