Das Sollen vs Das Sein (1)
Lucu. Dalam cara yang
sinis, saya merasa apa yang saya alami dan rasakan sekarang ini, lucu.
Saya jadi ingat bahwa
istilah keilmuan sosial yang saya hafalkan pertama kali adalah, istilah ini. Das
sollen dan Das Sein.
Das sollen adalah apa yang
kita harapkan, apa yang kita cita-citakan, keadaan ideal yang kita inginkan.
Das sein adalah apa yang
senyatanya terjadi, realitanya, keadaan yang sesungguhnya dihadapi saat ini.
Dan, saya ingat, pak dosen
ilmu sosial dasar berkata, “Objek kajian kalian adalah jarak di antara dua
istilah itu. Masalah adalah kesenjangan antara apa yang diharapkan (das sollen)
dan apa yang senyatanya terjadi (das sein).”
Lucu. Dalam cara yang
sinis, sore ini saya baru sadar bahwa kajian ilmu saya itu adalah untuk menjadi
ahli dan cermat dalam menemukan masalah. Problem happens when u see the
distance between the das sollen and the das sein. Yup! Temukanlah
kesenjangannya, temukan masalahmu.
Fiuft.
Das sollen vs Das sein.
Dua istilah ini kembali
mengudara di kepala saya tadi pagi. Ditambah beberapa pertanyaan.
Dalam hidup, dalam
hubungan, dalam berbagai hal yang kita alami, Jika masalah adalah kesenjangan
antara kondisi ideal yang diharapkan dan kenyataan yang sesungguhnya, apakah
manusia sebaiknya menghilangkan saja harapannya akan kondisi ideal itu?
*very stupid question, right?*
Apakah berhenti berharap
atau setidaknya mengecilkan harapan, akan sedikit mengurangi jarak yang senjang
antara kondisi ideal dan realita yang dialami? Apakah jika jarak itu sedikit
berkurang, masalah akan jauh lebih berkurang? Jika masalah erat kaitannya
dengan kesedihan, kemarahan, luka, dan rasa kecewa, apakah memperkecil harapan
kita akan sedikit menolong untuk mengurangi rasa pedih, marah, luka, dan
kecewa?
Hm..
Dalam sebuah kutipan yang
saya lupa-lupa ingat, Budha katanya pernah berkata bahwa, bahagia itu diperoleh
saat manusia tidak mengharapkan apa-apa, melainkan menerima apa yang terjadi
dalam hidupnya dan bisa mensyukurinya.
Apakah kita, manusia, bisa
untuk tidak berharap? Atau mengecilkan harapan kita?
Lebih penting lagi, apakah tidak berharap adalah solusi satu-satunya yang manusia miliki untuk memperkecil jarak masalahnya?
Lebih penting lagi, apakah tidak berharap adalah solusi satu-satunya yang manusia miliki untuk memperkecil jarak masalahnya?
Is it the only way we have
to reduce our pain, our anger, our dissapointment?
Apakah meniadakan harapan adalah harapan agar hati kita tidak terluka?
Karena konon om Shakespeare bilang, bahwa expectation is the root of all heartache.
Can we? Atau pertanyaan yang lebih tepat, should we?
Hm..Apakah meniadakan harapan adalah harapan agar hati kita tidak terluka?
Karena konon om Shakespeare bilang, bahwa expectation is the root of all heartache.
Can we? Atau pertanyaan yang lebih tepat, should we?
Dalam konteks hubungan
antar manusia, apakah ada etika yang sebaiknya kita miliki dalam membangun
harapan?
Jika ada masalah yang lebih
besar dari kesenjangan antara das sollen dan das sein individu, apakah itu
adalah harapan yang dibangun untuk seseorang dan saat kenyataan yang terjadi
adalah orang yang kita harapkan tidak mampu memenuhi harapan tadi?
Jika demikian, bagaimana
cara mengkomunikasikan harapan masing-masing orang yang tidak mungkin persis
sama?
Bagaimana caranya
memperkecil kesenjangan antara das sollen dan das sein dalam konteks hubungan
antar manusia?
Dalam konteks berhubungan
dengan orang lain, apakah sebaiknya saya meniadakan harapan atau
mengecilkannya, sehingga saya bisa terhindar dari rasa kecewa dan menjadi
bahagia seperti yang dikatakan oleh Budha?
Hm..
Tidak tahu.
*Am i too sarcastic because i have opinion and
question like this? I think, i hope people dont judge me as a sarcastic person.
Well ..*
Malang, 26 Oktober 2012
Talk to my self:
Bagi saya, menghilangkan
harapan itu bukan opsi. Saya akan tetap membangun harapan saya. Begitupun, saya
tidak berharap orang lain berhenti memiliki bayangan atas kondisi ideal yang
diinginkannya. Berharap membuat kita berupaya menjadi lebih baik, bukan? Dan tentang
resiko bahwa berharap juga membawa kita pada resiko menjadi terluka atau
kecewa? It is worth it, right?
Tapi, saya juga setuju
dengan kata Budha. Saya akan mengejar bahagia saya juga, dengan menerima
kenyataannya. Mensyukurinya. Apa adanya.
*Seperti biasa, saya membingungkan bukan? Hahahaha..
Lucu. In sarcastic way.”
Komentar
Posting Komentar