Saya dan Televisi


Bisa dibilang saya sudah puasa nonton televisi selama 7 tahun.
Masa merantau karena kuliah dan bekerja, dimana kamar kos saya gak dilengkapi televisi pribadi adalah pemicunya.
Dalam masa 7 tahun itu, saya menjadi orang yang berhasil melepas ketergantungan pada televisi.
Kalau kebetulan lagi kumat kepengennya liat televisi, ya, saya akan pergi ke ruang nonton tv bersama.
Tapi, saat kumat itupun datang, dan televisi sedang tidak available untuk saya tonton, saya pun baik-baik saja. Gak masalah. Saya enjoy aja mengganti jam nonton tv dengan kegiatan lain. Misalnya, tidur, diem, baca buku, internetan, ngayal, telponan, nulis, chattingan, maraton film korea di laptop, dan banyak lagi.
Teman kuliah dan kantor saya dulu sampai memandang takjub karena saya sanggup hidup tanpa tv. Dan, saya gantian yang merasa takjub, kok mereka segitu takjubnya sama saya. Hehe..

Nah, 4 bulanan ini, saya kembali menjadi manusia rumahan lagi. Seperti quotes dari bang napi, "sebuah 'kejahatan' terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi karena ada kesempatan." Begitupun saya, "menonton tv bukan hanya karena ada niat saya, tapi karena ada kesempatan."
Singkat cerita, saya terbiasa untuk menonton tv dengan teratur lagi sekarang ini.
Walaupun begitu, saya pemilih kok. Saya nonton TV untuk program acara yang saya suka aja. Kalau gak ada program yang saya suka, saya masih tetap memilih matikan TV dan berkegiatan lain.

Jam nonton TV saya adalah mulai pk 19.00 di Net Tv dengan tontonan " Tetangga Masa Gitu?" Saya suka dengan ide serial ini yang fresh dan cerdas. Dialog dan adegannya pun lucu. Bintang, Bastian, Adi, dan Angel pun menjadi teman akrab yang saya tunggu dan nantikan.

Setelah itu, saya akan bingung selama 1 jam dan mencari kegiatan lain karena saya belum menemukan tayangan yang favorit dalam rentang pk 19.30 s.d pk 20.30. Saya bisa beralih channel. Atau, mematikan TV sebentar dan online atau membaca, atau main instagram.

Pk 20.30 saya akan stand by di channel ANTV. It's time for Jodha Akbar dan Raja Jalal. Menurut saya, cerita tayangan India ini menarik untuk diikuti. Konflik yang terjadi tidak bisa ditebak. Romansa yang dibangun  manis-manis nggeregetin. Raja Jalal yang tampan dan pintar pun mencuri perhatian. Selain itu, cerita romansa yang dibangun dengan latar belakang agama dan budaya berbeda, menjadi cerita cinta yang pas kena dengan situasi pribadi saya.

Pk 21.00 waktunya bertemu Pandawa. Mahabaratha adalah salah satu cerita paling fenomenal di dunia. Serial India di ANTV ini mampu menghadirkan cerita tersebut dengan sangat baik dan niat. Settingan tempat, kostum pemain, digarap dengan serius. Adalah suatu nilai tambah, karena saya suka sekali dengan kata-kata bijak yang disampaikan Sri Krisna.

Demikianlah, cerita tentang saya dan tayangan favorit harian saya di televisi.
Menurut saya, dunia pertelevisian Indonesia saat ini telah jauh sangat berkembang. Channel yang cukup banyak, membuat para penyelenggara program televisi juga berlomba menyediakan tayangan yang menarik masyarakat. Sekalipun masih banyak juga tayangan sinetron yang ceritanya gak logis, sangat menyedihkan dan tragis, tapi masyarakat memiliki pilihan tayangan lain. Stasiun TV baru seperti Net.TV tampaknya berupaya untuk menjaga kualitas programnya. Metro TV juga semakin kukuh memposisikan diri sebagai stasiun TV berita yang berkualitas. ANTV menjadi stasiun TV yang pandai mengambil hati pemirsa, dengan pilihan menayangkan cerita-cerita kelas dunia.
Pada akhirnya, televisi bisa menjadi pilihan hiburan yang murah, mudah, menghibur, dan mencerdaskan ketika kita pandai memilah dan memilih tayangannya.

Sekian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads