Meramu Resep Hidup dari FILM CHEF
HER FILM
CHEF
“Karena hidup
itu seperti meramu masakan yang enak.
Kita butuh
daging, sayur, garam, gula, cabe, dsb.
Seluruhnya dengan
takaran yang pas.”
**
Introduction
In a word, I will say that this film is
‘WOW’! Pake tanda seru nulis WOW nya, hehe. :D
Are u searching a film that will make
you think about your passion in your life?
Are u expecting a film that will tell
you a lot about family relationship?
Are u wanting a film that will
entertain you, with a beautiful journey in America, or with a culinary
experience?
Are u a marketer and have interest
about e-commerce or the power of social media in our world right now?
Please! Yes, I say please, you should
watch this movie: CHEF!
**
Sekilas
Ringkas Film ‘CHEF’
Secara singkat, Film CHEF ini mengisahkan tentang
seorang koki bernama Carl Casper. Carl Casper bekerja di restoran yang
tradisional dan memiliki atasan yang tradisional pula. Sebagai chef, ia hanya
boleh menyajikan makanan yang sudah biasa disukai pengunjung. Masakan yang
sudah biasa. Yang sudah berpuluh tahun menjadi menu andalan restoran itu.
Bahkan
ketika seorang kritikus makanan datang, Chef Casper diwajibkan untuk hanya
menyajikan masakan yang biasa. Alhasil, masakan Chef dikritik habis-habisan. “Seperti
masakan yang disajikan oleh Chef yang kesepian dan tidak lagi punya kemampuan
berkreasi.” demikian tulis si kritikus.
Komentar
yang pedas itu menyebabkan Chef Casper sempat terlibat Twitwar dengan si
pemberi kritik. Chef Casper tidak terima dikatakan sebagai seorang chef yang menyedihkan.
Ia merasa masih mampu untuk berkreasi menciptakan berbagai menu baru. Kreasi
menu yang akan memanjakan lidah penikmat masakannya. Namun, apa daya, pemilik
restoran tidak pernah mempercayainya.
Di
titik inilah, kehidupan Chef Casper berubah. Ia memilih resign alias mundur
dari pekerjaannya sebagai chef utama di restoran. Ia sempat merasa putus asa
karena tidak ada satu restaurant pun, yang mau mempekerjakannya. Ia merasa
putus harapan karena di usia yang tak lagi muda, ia berakhir jobless. Tanpa
pekerjaan. Tidak punya cukup tabungan. Dan, sendirian.
Secara finansial, ia
kekurangan. Reputasinya pun buruk akibat twitwar yang dilakukannya. Kehidupan
pribadinya pun tidak lebih baik. Tidak akrab dengan putra kecilnya. Putus
hubungan dengan kekasihnya yang baru. Ibarat jatuh, tertimpa tangga pula. Di
tengah keputusasaan tersebut, mantan istri Chef Casper menawarinya untuk
membuat truk makanan.
Nah, berhasilkah Chef Casper mengelola usaha
truk makanannya yang baru? Apakah pekerjaannya yang baru tersebut membawa
dampak positif dalam hidup pribadinya? Apakah orang akan kembali percaya untuk
mencoba makanan kreasinya, setelah twitwar yang merusak reputasinya? Tunggu apa
lagi, segera tonton film “Chef’ ini sendiri untuk menemukan jawabannnya. :D
**
Hasil Olahrasa Film ‘Chef’
Saya
bukan seorang kritikus film. Saya juga bukan orang yang paham teknis dunia perfilman. Saya hanya seorang
penikmat. Penikmat film yang beranggapan bahwa film adalah salah satu sarana
yang dapat digunakan untuk latihan mengolah perasaan. Olahrasa, saya biasa
menyebutnya.
Olahrasa ini penting,
untuk melatih daya tahan kita jika menghadapi situasi yang ada mirip-miripnya. Film
CHEF ini saya rekomendasikan untuk latihan olahrasa tingkat menengah. Berikut
ini hasil olahrasa saya:
a.
Do
what u love, passionately. (Money will follow)
Bagi Chef Casper, memasak itu bukan
sekadar untuk mencari uang. Tapi, dia cinta memasak. Berbelanja di pasar,
berdiri di dapur, mengayunkan pisau dan mengiris bawang, itu semua adalah
kesukaannya. Ia mencintai makanan juga. Membuat penikmat masakannya merasa puas
dengan apa yang disajikannya adalah kebahagiaannya.
Pada akhirnya, ia memilih untuk bisa
memasak dengan kreasi yang bebas dan hati yang bersukacita. Walaupun harus
terseok-seok di awal, sempat jobless, dan dikritik sebagai chef yang tidak
kompeten, ia terus berjuang.
Chef Casper meneladankan tentang
berjuang untuk mempertahankan apa yang dicintainya. Ia berjuang untuk melakukan
apa yang disukainya. Ia mengusahakan yang terbaik untuk menciptakan menu-menu
yang terbaik juga. So, what’s your passion? Apakah kamu sudah memberikan yang
terbaik dan memberikan perjuangan maksimal untuk apa yang kamu inginkan?
b.
Our
children spell LOVE with TIME.
Seringnya dalam rangka mengejar karir
dan uang, ada yang harus dikorbankan. Dan, seringnya lagi yang menjadi korban
itu adalah anak kita. List pekerjaan yang tidak ada habisnya, memberikan
sebagian besar waktu kita berada di luar rumah. Bahkan, kadang berada di rumah
tapi pikiran dan tenaga kita masih juga berkelana.
Bagi seorang anak, cinta tidak harus
selalu berupa hadiah. Setidaknya dalam cerita film CHEF, kita akan belajar to
spell L.O.V.E with T.I.M.E. Ya, waktu. Moment bersama yang berkualitas. Hanya
ayah dan anak yang mengerjakan hal-hal biasa seperti makan di rumah bersama.
Hanya ayah dan anak yang melakukan aktivitas biasa, tapi bermakna. Kapan terakhir
kali berbincang dengan ayahmu? Kapan terakhir kali mendengarkan anakmu? :’)
c.
This
is a new world, a social media world.
Zaman
sudah berubah. Populasi terbesar kedua di dunia bukan lagi India, melainkan
Facebook. Twitter pun termasuk dalam 10 ‘negara’ berpopulasi terbesar.
Keberadaan media sosial dan kekuatan yang dimilikinya tidak lagi bisa dipandang
sebelah mata.
Sebuah
twit yang salah bisa menyebabkan seseorang dicap penjahat di mata banyak orang.
Sebaliknya, kata-kata baik di media sosial juga bisa membuat seseorang mendadak jadi
idola.
Dalam film Chef, the power of social
media dapat dilihat dari twitwar antara Chef Casper dan kritikus makanan yang
menghebohkan dan sekaligus menjatuhkan reputasi sang Chef. Sebaliknya, sosial
media jugalah yang kemudian menjadi media promosi efektif ketika sang Chef
memulai bisnis truk makanannya. Mari
kita belajar cerdas berperilaku dan dalam memanfaatkan sosial media!
d.
Hello
lady, you’re so important.
Kutipan lama berbunyi behind every
great man, there is a woman. Masyarakat Indonesia seringnya menerjemahkan
perempuan itu biasanya sebagai istri atau ibu. Tapi, dalam skala yang lebih
luas, mungkin perempuan itu bisa jadi adalah siapa saja.
Seorang teman perempuan yang juga
mantan istri Chef Casper, sekaligus Ibu dari putranya, adalah ‘woman behind a
successful man’ di film ini. Ia menjadi perempuan yang terus percaya akan
kemampuan sang Chef. Bahkan, saat dunia mengkritiknya, bahkan ketika sang Chef
sendiri meragukan dirinya. Perempuan ini yang mendukung Chef untuk mempunyai
truk makanannya sendiri dan yakin akan kemampuan Chef.
Jika kita seorang perempuan, apakah
keberadaan kita sudah berarti positif bagi sekeliling kita? Sebelum pertanyaan
itu, apakah kita telah menjadi perempuan yang sudah ‘beres’ dengan diri kita sendiri?
Sudahkah kita tahu apa yang kita mau, percaya diri dengan apa yang kita
percayai, sehingga kita pun mampu mendukung orang lain?
**
Sekali
lagi, saya adalah seorang penikmat film saja. Olahrasa yang saya lakukan menghasilkan empat bahan perenungan dari Film
Chef yang saya lihat ini. Semoga hasil olahrasa saya bermanfaat bagi para
pembaca sekalian. Jangan lupa tonton Film Chefnya. Dan, selamat berolahrasa
sendiri! J [eyw]
Komentar
Posting Komentar