Mimpi Ini, Realitas Kita (part 2) : Teori Psikologi Mimpi


Setelah menceritakan panjang lebar tentang mimpi saya semalam di tulisan sebelumnya.
Disini saya akan mencoba mengembalikan kita semua ke realita.
Kenapa ya saya suka mimpi absurd-absurd ajaib jika perasaan saya sedang gundah seolah gapapa di malam harinya?
Apakah sebenarnya makna dari mimpi dalam tidur itu? Apakah mimpi benar hanyalah sebuah buah tidur yang tidak perlu kita hiraukan? Atau sebaliknya, mimpi tertentu perlu kita cermati, karena bisa jadi, mimpi adalah cara komunikasi alam bawah sadar kita?

Mari kita lihat, belajar, dan renungkan. :)

Dalam rangka menganalisis mimpi semalam, saya pun browsing di mbah google dengan kata kunci, 'jenis mimpi secara psikologi'. Sebelum memahami mimpi, kita perlu memahami dulu sang penghantar mimpi, yaitu tidur.

  1. Tidur
Penelitian menunjukkan bahwa tidur ternyata bukan sekadar tidur. Otak kita sebenarnya malah lebih aktif bekerja, dibandingkan saat tubuh terjaga. (Dee, 1991/2005)
Berdasarkan tahapan tidur seseorang, jenis tidur terbagi dua. Pertama, tidur pada Fase REM (Rapid Eye Movement). Tidur ini merupakan tidur saat mimpi sedang aktif. Kedua, tidur pada fse nREM (non-Rapid Eye Movement). Pada fase kedua ini, tidur berlangsung tenang dan kita hanya sedikit bermimpi. Saat kita tidur, kedua fase ini berlangsung bergantian. 

  1. Arti Mimpi secara Psikologis
Menurut artikel yang ditulis di angelixus.blogspot.com, mimpi sebenarnya mempunyai banyak makna. Untuk memahami makna dari mimpi kita, maka kita membutuhkan pengenalan dan pemahaman pada diri sendiri.

Psikolog terkenal, Sigmund Freud mengatakan bahwa mimpi adalah penghubung antara kondisi bangun dan tidur, antara sadar dan tidak sadar. Karenanya, Freud yakin bahwa setiap mimpi mempunyai tafsiran tersembunyi. Dalam bukunya The Interpretation of Dream, ia memberikan teori bahwa mimpi adalah manifestasi keinginan alam bawah sadar yang direpresi alam sadar. Sederhananya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi alias keinginan yang ditekan untuk diungkapkan dalam keadaan manusia terjaga.  Namun, teori Freud ini banyak mendapat kritikan dari para psikolog lain. Mereka mengkritisi bahwa teori Freud kurang relevan, karena hanya diambil kesimpulan dari para pasiennya yang kebanyakan bermasalah. Selain itu, teori Freud juga dianggap kurang relevan, karena menerjemahkan mimpi manusia hanya semata dorongan biologis semata.

Psikolog lainnya, Carl Gustav Jung, mengatakan bahwa jiwa manusia terdiri dari alama sadar dan alam bawah sadar. Mimpi yang berada di bawah sadar tersebut  berfungsi menegur seseorang akan adanya ketidakseimbangan dalam pribadinya. Mimpi adalah cara untuk penyesuaian diri dan membangun keseimbangan batiniah. Jung pun percaya bahwa mimpi menjadi jembatan komunikasi dengan dirinya sendiri. Mimpi juga menjadi bukti adanya kekuatan terpendam bersifat religius yang mensakralkan sesuatu dalam hidup manusia.

Nah, kesimpulan dari teori-teori yang saya baca secara singkat dari mbah google itu adalah, tidur dan mimpi memiliki hubungan yang penting dengan emosi seseorang.  Seseorang yang tidur dalam kondiri REM lalu dibangunkan bisa terganggu emosinya sehingga mudah marah, lelah, dan depresi. Memberikan arti pada mimpi kita, kadang cukup penting untuk kita lakukan. Dengannya, kita akan lebih mengenal diri sendiri, emosi yang kita alami, dan langkah apa yang sebenernya ingin kita lakukan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads