DisMimpivasi


Hari ini adalah hari pertama training teman saya. Dia di Jakarta. Calon reporter. Wartawan. Di Tempo.

Saya ingat beberapa tahun lalu, waktu kami masih SMA, ia tuliskan di buku saya bahwa 10 tahun lgi sejak saat itu, ia akan menjadi wartawan. Lalu, akan mewawancarai saya, yang sedang tersenyum memandangi buku novel pertama saya yang dilaunching. Laris manis.

Hari ini ia mulai menapaki jalannya.
Menuju mimpinya.
(5 Desember 2011)



Saya?

Saya sedang di hadapan laptop ini. Menulis ini.

Entah apakah tulisan ini cukup berarti untuk diperhitungkan sebagai langkah yang saya tempuh, untuk menuju ke jalan saya. Mimpi saya (dlu).

Saya paham, ya tentu saya tahu. Kadang mimpi memang perlu dikoreksi.

Mungkin jadi novelis bukan cita-cita saya saat ini.



*Lalu, apa yang kamu mau? Lalu, apa cita-cita kamu? Lalu, apa yang hendak kamu kejar?*

*Mengingat saya harus mikir terlalu lama untuk menjawabnya. Dengan berat hati, saya harus bilang, saya tidak tahu.*



Fase ini gila, menyiksa.



Dulu saya bisa berteriak saya mau ini. Saya mau itu.

Saya berani meneriakkan yang saya mau.

Dan ya, Tuhan- alam- segala yang gaib di semesta ini,

memang benar membantu mewujudkan mimpi demi mimpi itu.

Tanpa saya tahu bagaimana caranya.

Tanpa saya mengerti bagaimana cara kerjanya.

Peran saya hanyalah percaya. Dan, entah, SIAPA mengatur selanjutnya.

Langkah demi langkah. Dimudahkan. Dibuka jalanNya.



Maka, malam ini, kalau saya gelisah, itu bukan karena saya meragukan kemampuanNya.

Seringnya, memang Dia itu iseng, membawa saya ke jalan-jalan yang berkelok-kelok ga jelas.

Bukan saya hilang percaya, bahwa keberadaan saya sekarang ini, apa yang tengah saya lakukan, adalah bagian dari rencanaNya.

Dan, saya percaya, berdasar seluruh pengalaman 23 tahun hidup saya, rencana yang mbulet itu membawa saya, selalu, pada kebaikan.

Selain itu, Orang bilang, hidup itu mengalir, dijalani seperti air.

Saya angkuh, kalo berpikiran bahwa yang saya jalani sekarang ini bukan bagian dari skenarioNya kan?




Tapi,,,
Ada banyak tapi di kepala saya sekarang.

Fase hidup mengalir ini, bukan berarti tanpa tujuan kan, Ka?

Bukannya segala sesuatu diciptakan dua kali. Pertama, di pikiran. Kedua, di tindakan,

Nah! Jadi, jika sekarang itu, pikiranmu kosong, blank, apa yang kemudian bisa tercipta?

Hidup tanpa visi itu Nol. Besar.

Jika benar, dan ya memang benar, Tuhan memeluk mimpi-mimpi anakNya.

Maka, kalau saya sekarang ini, mimpi saja tidak punya, mimpi saja tidak berani, apa yang akan dipelukNya?



Parah. Ini parah.

T.T


Surabaya, 9 Juli 2012

Komentar

  1. Sedihnya, tapi aku juga ngalami hal yang sama, Ka.
    Sampai saat ini pun kalo ditanya mau jadi apa, pasti bakal bingung sendiri.
    Aku rasa banyak juga orang yang sama dengan kita, Ka.
    Beruntunglah mereka yang sudah tahu bakat dan kemampuan mereka sejak masa sekolah, dan konsisten buat menggapainya.
    Kita kapan? :'(

    BalasHapus
  2. *tarik napas* apa fasenya ya buk? tapi fase begini sampai kapan? T.T
    ayo kita harus semangat, buk!!!

    BalasHapus
  3. Aku ga ngerti juga sih apa ini salah satu proses fase yang tinggal nunggu waktu nanti akan muncul sendiri, atau harus bener2 dicari.
    Banyak orang sukses bilang kalo mereka udah tau mau jadi apa sejak kecil, dan mereka pun konsisten dan percaya dg keinginan mereka.
    Oprah Winfrey pun jg pernah bilang, "Saat kamu sudah semakin tahu dengan dirimu sebenarnya, kamu akan lebih bisa memutuskan apa yang baik untuk dirimu."
    Apakah kita kurang memahami diri sendiri ya, Ka?
    *tapiumurberapainiiimasihbelumpahamdirisendiri*
    Kurang berani mengekspresikan diri dan *eumm* kurang iman mungkin juga :'(
    *galilubang *kuburdirisendiri
    ah, entahlah

    BalasHapus
  4. hmm.. heh.. jangan gali lubang dulu, hahaha.. bukannya proses memahami diri sendiri itu adalah proses seumur hidup? semangaaatttt!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads