Dua Ribu Rupiah, bagi Sebait Doa


Perjalanan pulang ke Malang hari ini berbeda. Saya naik bis ekonomi sendiri. Dan, memilih menikmati setiap detiknya.  Tidak sibuk dengan teknologi. Tidak sepenuhnya tenggelam dalam kantuk. Tidak juga lari menyusuri jalan pikiran kepala sendiri

Hasilnya ? Apa yang saya dapati?

Banyak.

Pak kondektur dengan kumis melintang yang ternyata ramah. Ringan tangan membantu ibu-ibu tua yang memanggul belanjanya.
Penjual-penjual makanan atau perkakas atau apa saja, yang tidak lelah-lelah memperjuangkan hidupnya. Meletakkan dagangannya ke pangkuan penumpang. Lalu menyusuri lorong bis lagi, mengambil barangnya satu-satu. Masih berharap ada yang tergerak membeli.
Perempuan di samping saya, ibu muda dengan dua anak perempuan manis yang kerap mengeluh kegerahan. “Sabar ya, nak.. Sebentar lagi sampai..” Suaranya lembut, mendamaikan hati anaknya. Menenangkan putrinya. :’)
Mas yang berdiri di lorong bis memanggul ransel besar. Barangkali mahasiswa.Seringnya menunduk. Asyik dengan gadget bernama blackberry. Dan, hei, ya, lihat senyumnya. Lihat binar-binar jenaka di matanya.

Ekspresi yang kerap saya akrabi. Barangkali ia tengah membaca sebuah pesan singkat yang manis dari kekasihnya. Barangkali, sebuah ungkapan hati-hati, sampai jumpa di kota kita nanti. Aaah.. Ya, mas, saya ikut tersenyum memandangmu. J

Lalu ini, yang paling sukses bikin saya sukses mikir hari ini.

Seorang pengamen muda. Rambutnya indah. Panjang diikat rapi ke belakang. Gitar berada di dekap tangannya, dimainkan.
Ia menarik perhatian saya karena, pertama, suaranya lantang menarik perhatian. Pilihan lagunya bukan dangdut atau pop melayu yang iramanya mendayu-dayu. Lagunya pertama sebuah lagu lama yang saya lupa judulnya. Sederhana dan nyaman di kuping saya.
Lagunya yang kedua, sebuah lagu yang dinyanyikan dalam bahasa jawa halus. Lagu ini baru saya dengar pertama kali. Diawali dengan tembang lir-ilir yang diimprovisasi. Lalu, dilanjutkan dengan syair tentang fenomena dan persoalan manusia saat ini. Tentang pergulatan hidup manusia sehari-hari. Tentang seorang gadis yang pamitnya kuliah, tapi pulangnya kok sudah ‘berbuah’. Tentang menantu yang tinggal menumpang di rumah mertua, serba salah tingkah dan tindaknya. Tentang laki-laki yang susah payah bekerja, lalu pulang dengan hasil apa adanya.
Hhh.. Yang jelas liriknya bikin mikir. *sayang saya ga punya lirik bahasa jawanya, T,T*
Gak cukup berhenti disana. Saya juga mikir dengan caranya mengakhiri pertunjukkannya.

Ya. Tentu saja, ia berkata akan mengedarkan kantong, dan berharap diisi serelanya. Entah seratus atau dua ratus rupiah.
Ya. Tentu saja, ia mengucap maaf jika ada salah-salah kata, atau ada yang merasa terganggu dengan sumbang suaranya.

Ya. Tentu saja, ia menyampaikan terima kasih diberi kesempatan menemani perjalanan kami.
Ya. Saya biasa saja mendengar semuanya itu.

Tapi, ya, saya diam dengan kalimat-kalimat yang berikutnya.
Kamu tahu? Apa yang dilakukannya.

Kalo membaca judul tulisan ini, mungkin kamu sudah bisa menebaknya.
Ya. Ia mengucap doa.

Bukan doa semacam Tuhan Maha Besar, atau merapal ayat-ayat suci.
Ia berdoa buat semua penumpang semoga lancar di perjalannanya. Boleh bertemu dengan yang dirindukan, yang dikasihi, yang disayangi. Buka puasa di rumah dalam satu meja bernama keluarga.
Ia berdoa buat penumpang yang belum ketemu  jodoh atau pengen segera dapat mantu. Ia berdoa bagi penumpang yang sedang pengen punya anak, atau yang sedang membesarkan putra-putrinya.
Ia berdoa bagi para penumpang semoga dilancarkan rejekinya. Yang kerja proyekan, semoga bisa berhasil dealingnya. Yang pelihara sapi atau kambing, semoga ternaknya cepat beranak-pinak. Yang jadi pegawai negeri, supaya bijak menggunakan THRnya.
Sedetail itu. Disampaikan dalam bahasa jawa, yang saya paham maknanya dalam bahasa indonesia tapi kesulitan menerjemahkan dalam jawa halus lagi di sini. Maaf. T.T

Dan.. ga tahu. Saya trenyuh saja.

Berapa banyak kerja yang memberimu kesempatan merapal doa bagi orang lain sedetail itu?

Dan.. ga tahu. Kok rasanya tiba-tiba kaya ditampar kanan kiri ya? Ugh!

Bagaimana denganmu? aduh kah yang kau ucap sepanjang waktu? Keluh kah yang kau bagi untuk orang-orang sekelilingmu, sepanjang kerjamu?  

Bagaimana denganmu? Dua kata itu seperti bertalu-talu, menghajar pikir dan hati saya.

Aaaakk!

Detik itu juga, saya merasa lelaki muda berkemeja kotak-kotak, berambut panjang, bersuara lantang, dan mendekap gitar itu, seharusnya bukan dilabeli pengamen.

Dia lebih dari itu. Mungkin sengaja, mungkin kebetulan saja.
Tapi, bagi saya, dia pendoa.  Saya merasa terberkati.

Maka, ya, saya tahu yang begini ini semestinya tidak ada harganya.

Semoga Tuhan tidak marah, di saku saya, benar-benar cuma tersisa dua ribu rupiah.

Dua ribu rupiah, bagi sebait doa.

Malang, 29/07/12

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads