Nasi, Sayur Sawi, dan Martabak Hari Ini.
Cerita tentang nasi, sayur sawi, dan martabak hari ini.
Tentu, aku paham maksud baik dari makanan yang tersaji.
Disitu ada kepedulian seorang ibu.
Disitu ada kasihnya dan perhatiannya untukku.
Tapi, jujur, saat kubuka hidangan, aku menghela napas panjang juga.
Bukan, bukan, karena aku tidak menghargainya.
Aku tentu bersyukur atas makanan di depanku.
Hanya, merasa frustasi bagaimana cara membuat ibuku mengerti, bahwa aku sedang diet.
Aku menghindari nasi yang sebanyak itu. Aku tidak ingin makan gorengan martabak seperti yang disajikan itu karena sedang berusaha anti minyak. Aku suka sayur sawinya, walau itu sangat asin , seperti masakan ibuku yang lain yang selalu asin. (but hey, i appreciate that, karena ibuku memasak saja itu sangat langka. dan mengingat beliau jauh-jauh datang ke tempatku demi mengantarkan makanan, bagaimanapun itu membuat hati seorang anak bergetar, bukan? )
Tidak memakannya membuatku merasa seperti anak durhaka dan tidak tahu terimakasih.
Memakannya membuatku sesak dan seperti kehilangan jati diri.
Pilihanku, seperti yang sudah-sudah.
Aku memilih memakannya sampai tandas, dan menulis ini.
Apa yang menjadi inginku, plan ku, rencanaku, selalu luruh karena aku (harus) menjadi anak baik.
Kutulis cerita ini, dengan perasaan kalah.
I lose my self, as always.
--
Aku sedang rajin belajar tentang mental health dan innerchild.
Ingat ceritaku sebelumnya, tentang sulitnya mengambil keputusan.
Dan betapa aku tersiksa karena merasa terus kabur dan menghindari masalah?
Cerita sawi ini kubuat sebagai refleksi dan pengingat bahwa ada banyak PR yang belum beres dengan diriku. Ada banyak issue yang belum selesai.
Kelihatannya sederhana, atau sebenarnya aku yang terlalu sensitif dan drama.
Atau ya, ini tidak sesederhana kelihatannya, mungkin malah tumpukan luka dan trauma.
Ah, sudahlah. fiuft, mari berusaha menjadi optimis, dan meski berat dan tertatih, berusaha memperbaikinya.

Komentar
Posting Komentar