Si Konservatif yang Manis
Sabtu lalu, saya
menemani teman buat beli kado ulang tahun ayahnya.
Kami mencari sebuah
jam tangan.
"Aku
pengen yang klasik, simpel, tapi
manis."
Oke. Maka
demikianlah, kami putar-putar plasa di Surabaya.
Toko pertama.
Lihat di etalase.
Tanya rekomendasi penjual. Lihat katalog.
Yup. Ada 1 yang
tertambat. Klasik, elegan, terkenal, dan yaah.. Lumayan mahal.
Apa teman saya
merasa oke dengan jam pertamanya ini?
"Hmm, kita
lihat di tempat yang lain dulu ya.."
Oke. Ragu-ragu.
Maka, pergilah kami ke toko kedua.
Ada dua yang mencuri
perhatian. Merk yang terkenal dengan mutu bagus.
Cakep modelnya.
Harga pun oke.
Sempat dilema sesaat
untuk memilih satu saja.
"Kalo jam nya
kaya gini, aku juga mau." katanya, antusias kepengen.
Saya geleng kepala.
"Ya.. Ya.. Buat bapak. " katanya, selanjutnya.
Dua jam tangan itu
sama bagusnya.
Hanya, jam pertama
itu auranya 'muda'. Jam kedua beraura 'konservatif.'
Kami cukup lama ada
di toko kedua. Sudah negosiasi harga dan potongannya.
Sudah ngobrol dengan
mba-mba penjualnya.
Apa teman saya
merasa oke dengan salah satu dari dua jam ini?
"Hmm, aku
sebenernya pengen ke toko jam yang langsung gerai resmi."
Oke. Masih penasaran. Maka, kami kembali
putar-putar pusat belanja itu.
Toko ketiga. Tidak ada yang mencuri perhatian.
Coret.
Toko keempat. Minder. Mundur sebelum maju. Pasti puluhan juta. Coret.
Kios kelima. Terlalu gaul dan muda. Bukan jam
buat bapak-bapak. Coret.
Toko keenam. Sebuah gerai untuk barang-barang
beraura vintage.
Gerai yang homy.
Lantai kayu. Lampu kuning.
"Ini seperti
jam ku.." kata teman saya, antusias.
Saya melirik jam
yang melingkar cakep di tangannya.
Simpel. Klasik.
Sporty. Manis. Elegan.
Singkatnya, Jam yang
bagus. Dan, tentu dong, dengan harga yang 'bagus' juga.
Dan, ada yang
mencuri perhatian, sepertinya. Teman saya berdiri lamaaaaa di depan salah satu
etalase jam di gerai itu.
Hmmm..
Saya gak tahu,
kenapa dia lama berdiri disana.
Apa sedang mempertimbangan benar-benar, karena jam di
hadapannya juga benar-benar bagus?
Atau, dia lama di
sana, karena riwayat sejarah dengan merk jam ini yang klop untuknya. Sehingga tanpa sadar, dia percaya bahwa kali ini
pun akan klop buat ayahnya.
Atau, dia lama di
sana, karena merk jam itu terkenal bagus, dan dijual dengan harga yang bagus.
Orang seringkali mengasosiakan merk dan harga sebagai jaminan atas kualitas,
bukan?
Well, dunno. Saya
gak tahu.
Setelah jeda
singkat, dunno juga, kenapa dengan spontan saya bisa nyeletuk.
"Saya rasa
ayahmu gak akan terlalu peduli dengan merk jam nya, atau modelnya, atau
harganya. Waktu yang memberikan jam itu sebagai hadiah ulang tahun adalah
anaknya."
Hening. Mungkin, dia
mencerna kata-kata saya.
Sampai akhirnya ia memutuskan kembali pada toko kedua.
Yup! Dan, kembali
menghadapi dilema, memilih satu di antara dua.
Mbak penjual masih
hafal pada kami. Ia segera tanggap mengeluarkan barang dagangannya.
Teman saya segera
dihela bingung lagi memilih yang mana. Satu, dari dua jam itu.
"Menurutmu?"
tanyanya, ke saya yang lalu rada kikuk menjawab.
"Hm.. buat
ayahmu, mungkin yang kedua. The conservative one. Lain cerita kalo buatmu, yang
pertama akan lebih pas."
Mendengarkan saran
saya, teman saya lalu berkata, "Oke mba. Jam yang kedua. Bungkus."
Mba penjual segera
gerak cepat. Menyiapkan kotak. Menulis
nota. Mengisi kartu garansi.
Teman saya menunggu sambil menunduk iseng lihat-lihat
jam yang ada di pajangan.
...
Dan!
"Mba.. Tunggu..
Bentar, saya mau lihat jam yang itu." katanya.
Ia menunjuk pada sebuah jam. Letaknya hanya selisih 2 baris dengan 2 jam yg sebelumnya menjadi
kegalauan kami.
...
Saat saya lihat jam
'newcomer itu'. Lalu beralih, lihat mata teman saya.
Well. Saya tahu.
Kali ini, teman saya ga benar-benar butuh pendapat orang lain lagi.
Setelah ini, kami ga
perlu untuk keliling putar-putar toko jam di plasa itu lagi.
Teman saya, sudah
ketemu jodoh jamnya.
![]() |
| -Have u already meet ur sweet-conservative?- |
Begitulah singkat
ceritanya, petualangan pencarian jam yang berlangsung selama hampir 2 jam.
Dengan mengikutsertakan berbagai pertimbangan dari toko pertama hingga toko
kesekian. Pencarian ini dimenangkan oleh sebuah jam yang muncul sekelebat saja.
Iya, sekelebat saja, di saat bahkan kami sudah berhenti mencari.
Pencarian ini
berakhir dengan sebuah jam yang hampir persis dengan the conservative one
pilihan saya.
Tapi, dia manis.
Konservatif dan
manis. Merk nya cocok. Modelnya pas. Harganya sesuai.
Cling! Deal.
Kami keluar
menenteng 'si konservatif dan manis'.
Saya ketawa. Dalam hati.
Bagi saya kejadian ini lucu. Apa hidup dengan beragam
pilihannya, serta kemungkinan beragam keputusan yang diambil, akan selalu
selucu itu? Pilihanmu akhirnya jatuh pada sesuatu yang baru.
Benar-benar baru.
Sesuatu yang tidak kamu lihat sebelumnya, tidak kamu
lirik sebelumnya, tidak masuk dalam pertimbangan rumitmu?
Ada berapa banyak pilihan dalam hidup, yang akhirnya
akan berujung pada sepersekian detik saja yang mengubah segalanya?
Is it so funny?!
Kamu menemukan, saat kamu berhenti mencari.
Surabaya, 23
Agustus 2012

Komentar
Posting Komentar