Repost: Warna-warni Kacamata Kacahati
Warna-Warni Kacamata-Kacahati
Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial
yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula
pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman
ini.
Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang
saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan
rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini
berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan”
sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang
aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, but
it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and
God. Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar
yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita
atas ketiganya.
Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi
sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat
peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti,
dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih
merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini,
menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam
penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum
gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak
dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang
masih bereaksi.
Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari
sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi
bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus
bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi
peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia
kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar.
Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu
pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.
Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni
ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa
mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut.
Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya
ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.
Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain
tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat
diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita
miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi
orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua
orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan
apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa
kita punya kendali tersebut.
Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa
Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang
dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun
yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau.
Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara
otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada amplifier, marker, kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan
beberapa bagian tertentu saja.
Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba
menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang
bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok,
alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini
setengah hijau dan setengah ungu.
Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang
menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa
hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat
hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama
hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga
tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang
ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis
lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya
realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan
matanya, tanpa bisa ia sadari.
Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati
yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang
percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan
dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang
yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya
bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu
melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang
menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup
dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah
pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran
sesungguhnya bersemayam?
Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai,
dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami
sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang
dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah
jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?
Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika
kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam
kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan
hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya
Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.
Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi
kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika.
Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar
“menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita.
Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar
MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.
Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada
kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya
peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang
menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan
kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari
keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal
benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita
bisa bebas dari jerat keduanya.
Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna
apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang
kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi
kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh
sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka
tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati.
Kebenaran tanpa lapis apa-apa.
Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih
bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan
Anda hanya bertukar kebenaran relatif. No
winner, no loser. It’s always a zero sum game.
Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di
Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah
dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal
itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat
seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan
menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh
bagi lawan bicaranya.
Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada
kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian
adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi
justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang
mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis
demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu
mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati
tanpa kacahati.
Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti
ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat
bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. So, let’s move on with our life, our love, and our
lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own
spectacles, but also the differences around us all.
Terima kasih sudah merepost artikel ini :)
BalasHapusGood food for thought!