Mind: Luka


Masalah yang ada, jika dibiarkan saja. Dilagakkan seolah tidak ada apa-apa.
Diperlakukan seperti semua baik-baik saja. Itu seperti luka. Gak sehat.
Memang ada kemungkinan, bisa  kering dan sembuh dengan sendirinya.
Tapi, bisa juga timbul nanah.
Yang lama-lama jika dibiarkan begitu saja, akan menyebabkan luka lebih parah.
Infeksi.
Dan kalau kamu punya sakit gula, bisa jadi amputasi.
Luka di tubuh saya ada beberapa. Sebagian besarnya kenang-kenangan atas kecerobohan dan moment-moment jatuh saya. Ya. Saya sering jatuh walaupun saya benci jatuh.
Saya gak suka kalau ada bagian tubuh saya yang tergores. 
Saya gak suka terluka.
Dan, saya rasa, saya percaya gak ada orang wajar yang senang dengan hal itu juga.
Tapi, saya tahu, meskipun sudah hati-hati, saya kadang juga harus terluka.
Kesandung,  lalu lutut cium aspal. Kesrimpet, lalu lengan kena goresan.
Kadang, atau seringnya, luka-luka akibat perkara sepele dan ketidakhati-hatian.
Saya tidak tahu bagaimana cara biasa kita memperlakukan luka.
Dulu, kalau saya terluka, hal pertama yang diteriak-teriakkan mama saya adalah bahwa luka saya harus segera dibersihkan. Dicuci bersih pake air ato alkohol.
Ya. Perih memang. Tapi harus.
Pertolongan pertama yang gak mengenakkan.
Sebelum akhirnya diberikan pertolongan lebih lanjut, seperti obat merah atau betadine atau dibalut tensoplast.

Malam ini saya mikir.

Hidup ini barangkali adalah serangkaian perjalanan dengan resiko terluka yang tiada habisnya. Resiko jatuh dalam setiap keputusan yang kita ambil. Resiko tersandung dalam langkah-langkah yang kita buat.

Resiko  jatuh, tersandung, terluka itu ada. Nyata.


Kita mungkin akan terluka karena apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Luka kecewa. Luka kehilangan. Luka tersinggung. Luka karena gesekan pendapat.
Intinya, luka itu adalah bagian yang tidak terluputkan dari iringan peristiwa hidup ini.
Nah.. Jika demikian, pertanyaan nya adalah bagaimana kita akhirnya memilih cara merawat luka tersebut?

Jika, ibu saya memaksa saya untuk membersihkan luka segera dengan air atau  alkohol segera,
Apakah kita juga cukup berani untuk membersihkan luka-luka batin, pikiran, perasaan yang menggores di hidup kita?
Seberapa berani kita menanggung perihnya?

Pembersihan luka batin, pikiran, atau perasaan membutuhkan kesadaran bahwa kita terluka.
Membutuhkan kesediaan untuk menjalani proses pembersihan, yang saya yakin, gak akan begitu mudah. Seberapa berani kita mengakui telah terluka?
Seberapa bersedia kita menjalani pembersihan yang menyakitkan tersebut?
Atau pertanyaannya seberapa sadar kita akan kebutuhan agar sembuh?


Pembersihan luka bisa berupa membicarakan apa yang menyakitkan diri kita tersebut.
Pembersihan luka bisa berupa memaafkan apa yang telah menyakitkan diri kita dan tidak mempersoalkannya lagi.
Pembersihan luka bisa berupa menghadapi luka-luka kita dan menerima dengan rela.
Pembersihan luka bisa berupa upaya mencari solusi bagi kesakitan-kesakitan yang kita alami.


Bagi sebagian orang, luka yang dialaminya terlampau pahit bahkan untuk sekedar diingat. Atau dibicarakan kembali.
Bagi sebagian orang, luka yang dialaminya terlampau pedih untuk diakui sebagai luka dan mmbutuhkan pembersihan untuk disembuhkan. Hhhmmm..

Intinya saya mau bilang, luka itu seringkali lebih suka dihindari dan seolah dihilangkan.

Dianggap tidak ada dengan enggan dibahas. Persis seperti orang sakit tapi menolak ke dokter karena tidak merasa sakit. Tidak butuh sembuh. Atau terlampau takut menjalani serangkaian pemeriksaan dan proses penyembuhan.

Nah, saya lalu pun mikir, jika luka di kaki saya, harus dibersihkan segera dengan air walaupun pernihnya luar biasa, agar tidak bernanah, tidak infeksi, tidak resiko amputasi?

Bagaimana dengan luka batin, pikiran, atau perasaan kita?
Sudah dibersihkankah, segera, demi kesembuhannya dan pencegahan dampak jangka panjang?


07 03 13


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads