Bersyukur
Ada yang bilang
bahwa orang yang bahagia adalah orang yang pandai bersyukur.
Apakah itu benar? Mungkin iya.
Karena bersyukur
membuat kita lebih fokus pada segala apa yang kita punya, dibandingkan yang
tidak kita miliki. Bersyukur membuat kita menghitung kenikmatan yang kita
rasakan. Bersyukur membuat kita mengarahkan energi untuk melihat hal-hal
positif dalam hidup ini. Bersyukur melatih kita untuk belajar menerima situasi
dan merasa tercukupkan. Perasaan cukup akan membawa kedamaian dan ketenangan
bagi diri kita.
Apa sajakah yang patut kita syukuri?
Jika kita mau
menghitung, ada begitu banyak yang bisa kita syukuri. Udara yang masih bisa
dinikmati gratisan. Kesehatan! (pakai tanda seru). Bisa makan tanpa ada
pantangan. Bisa minum air putih dan tidak dibatasi. Waktu yang masih diberikan.
Keluarga yang masih lengkap. Kekasih yang masih bisa diajak bertengkar.
Teman-teman yang suka iseng. Pekerjaan apa saja yang masih dipercayakan.
Di zaman modern ini,
kita bersyukur karena sinyal HP bagus, internet cepet, postingan path banyak
yang nge-love. Bersyukur karena menemukan colokan buat ngecharge. Banyak.
Kita bisa bersyukur
mulai dari hal yang sangat prinsipal dan religius, sampai dengan bersyukur
karena hal yang remeh temeh. Mengingat begitu banyaknya hal yang sebenarnya
bisa disyukuri, list syukur ini akan terus bertambah dan tak habis-habisnya.
Karena jika kita mau, masih bisa kentut
dengan lega adalah alasan bersyukur. Bisa ngupil dengan leluasa pun adalah
berkah yang mesti kita syukuri.
Jika kita mau,
selalu akan ada hal yang layak menjadi alasan bersyukur.
Kapan kita bersyukur?
Idealnya kita
bersyukur setiap saat.
Tentu saja, jika
kita sedang senang and life looks so easy,
bersyukur menjadi hal yang mudah untuk dilakukan.
Namun, ketika hidup
perlahan bergerak sulit, apakah lantas kemampuan bersyukur kita pun mengalami
degradasi?
Saya sendiri merasa,
bahwa sebagai manusia, sudah menjadi bawaan bahwa kita tidak bisa dengan mudah
melakukan hal itu. Kita mempunyai kecenderungan mencari cela. Melihat celah.
Menilai kurang. Mencari yang gak enak, gak baik, gak nyenengin, gak asyik itu
begitu mudah dan alamiah. Sementara, menemukan enaknya, baiknya,
menyenangkannya, keasyikannya, membutuhkan upaya lebih.
Karena itu,
barangkali syukur itu pun perlu dilatih dan dibiasakan.
Membiasakan syukur
dalam senang, dan dalam sedih. Membiasakan syukur saat rezeki berlebih-lebih,
juga saat rezeki terasa kurang. Membiasakan syukur saat hidup terasa mudah, dan
lebih bersyukur saat hidup terasa banyak sulitnya.
Saya sendiri merasa
banyak PR saat ini. Perubahan dalam hidup membawa saya dalam situasi yang tidak
senyaman biasanya. Akhir-akhir ini, saya pun jadi lebih banyak mengeluh. Lebih
mudah melihat kurangnya suatu hal. Lebih gampang mencela keadaan. Padahal, jika
mau melebarkan cakrawala pandangan, saya semestinya bisa melihat juga, bahwa di
balik ketidaknyamanan yang dirasakan saat ini, saya pun mendapatkan kenyamanan
dalam hal yang lain.
Tidak apa. Tulisan
ini dibuat sebagai pengingat pribadi juga, bahwa nikmat Tuhan hadir dalam
berbagai bentuk dan cara.
Lalu, kesimpulannya?
Life is not perfect.
Tidak ada hidup dan
manusia yang sempurna, tapi syukur menjadikannya tampak lebih indah.
Jadi, sudah bersyukur hari ini?
Komentar
Posting Komentar