Banci!
Kenapa reaksi saya harus sekeras dan sefrontal itu ya ketika dihadapkan situasi semalem?
Ceritanya, semalam, teman saya ada yang sedang curhat tentang ketidakberesan dan ketidakprofesionalan kerja suatu tim EO.
Dia sedang curhat menggebu-gebu meluapkan segala kekesalan atas kekacauan kerja EO tersebut.
Saya berasa sebelnya dia. Saya ngeeeeh banget EO itu emang gak semuanya baik dan
menyenangkan. Dan, kalo pas ketemu jodoh EO yang kacaubalaubanget-banget, emang wajar dan paham klo emosi kita bisa dimainin sampe ke puncak ubun-ubun. Ada banyak kasus dimana harus berhadapan dengan situasi yang menyebalkan banget-banget, bikin rambut njegrak, dan rasanya pengen koproool saking emosinya. Fiuft. (ini saya sendiri setengah curhat ini ceritanya! Fiuft.)
Nah. Waktu teman saya lagi cerita itu, saya tahu saya ga bener sih. Dilihat dari etika komunikasi antar manusia, emang tindakan saya ga bener.
Ketika seseorang sedang berbicara denganmu, maka dengarkanlah ceritanya hingga tuntas.
Ketika seseorang sedang bercerita padamu, maka jangan potong apa yang sedang dikatakannya.
Intinya, saat sedang ada orang bicara, dengarkanlah dengan segenap hati, pikiran, dan jiwamu.
Iya. Saya paham. Paham banget. Dan, sejauh yang saya ingat, dalam keadaan normal, saya berusaha untuk menjaga etika dan perasaan orang yang percaya untuk cerita sama saya.
Tapi, tapi, semalem saya emosi,
saya ga tahan untuk menahan pendapat saya.
Mungkin karena kondisi saya sendiri lagi gak siap buat mendengarkan.
Dan, mungkin, ini yang paling mungkin, saking saya bersungguh-sungguhnya mendengarkan dan menyimak, saya jadi ngeh dengan detail ceritanya juga. dan, bisa lebih aware dengan satu kata dan satu frasa yg diucapkan teman saya.
"EOnya parah, ga jelas, dan blablabla, dan banci solikin itu ....."
And it just came out.
"Aku gak nyaman kamu nyebut banci itu juga. kalo mau cerita tentang solikin menyebalkan, ya cerita aja solikin menyebalkan. kalo yang menyebalkan itu laki-laki, kamu akan menyebutnya solikin duank kan? bukan laki-laki solikin..."
Diucapkan dengan nada yang tampaknya cukup tinggi. Eww..
Sukses bikin teman saya ga mood untuk melanjutkan ceritanya, karena merasa saya memotong apa yang dia sedang ceritakan. Dan pemotongan saya itu menyebalkan.
Hmm..
Dan, ya, dalam etika komunikasi dan etika curhat, emang kan dipotong saat cerita itu rasanyaa gakk enak banget. Fiuft. Yah..
Jadi, kenapa saya ga bisa menahan pendapat saya sampai teman saya tuntas curhatnya? Lalu, ngomong dengan nada kalem dan baik-baik kalo saya ga nyaman dan ga sepakat sama kata 'banci' yang dia bawa?
Hmm..
Siang ini, dalam perjalanan 18 km menuju ke kawasan Surabaya barat tadi, saya menyadari sesuatu.
Mungkin, reaksi saya yang merasa gak nyaman dengan istilah 'banci' itu adalah karena saya merasa orientasi seksual bukan alasan untuk menilai keprofesionalan kerja seseorang.
Mungkin, reaksi saya yang merasa gak nyaman dengan istilah 'banci' itu adalah karena saya terpengaruh beragam diskusi tentang multikulturalisme, bhineka tunggal ika, human rights, dan isu-isu semacam itu pula.
Mungkin, reaksi saya yang merasa gak nyaman dengan istilah 'banci' yang menyertai solikin adalah karena saya merasa saya punya teman yang 'banci' dan mereka gak menyebalkan kerjanya seperti solikin. jadi, menyertakan 'kebancian' itu rasanya diskriminatif. Dan tidak fair karena seolah memberikan labelling bahwa banci itu gak profesional, padahal kasusnya terjadi pada Solikin.
Hmmm..
Apakah segala kemungkinan itu karena saya aktivis HAM, liberalist, atau orang yang sangat care dengan isu banci atau orientasi seksual?
Rasanya kok ya tidak.
Ya. Tidak.
Hmmm..
Reaksi saya sedemikian keras itu, saya sadari karena saya merasa sakit hati.
Ya. I'm sorry. Rasanya saya mendengar 'banci solikin' itu seperti mendengar 'cina saya'.
Dan. Saya gak nyaman. Saya berasa gak enaknya.
Hmmm.
Saya gak pengen ketika suatu saat saya (terpaksa ternyata) tidak profesional melakukan kerja saya, orang lain protes atas kerja saya itu dengan membawa-bawa kecinaan saya.
Yah.
Begitulah.
Semoga kutipan dari Ahmad Wahib ini menutup cerita saya dengan lebih baik,
"Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia."
(Catatan Harian 9 Oktober 1969)
Surabaya, 3 November 2012
Ceritanya, semalam, teman saya ada yang sedang curhat tentang ketidakberesan dan ketidakprofesionalan kerja suatu tim EO.
Dia sedang curhat menggebu-gebu meluapkan segala kekesalan atas kekacauan kerja EO tersebut.
Saya berasa sebelnya dia. Saya ngeeeeh banget EO itu emang gak semuanya baik dan
menyenangkan. Dan, kalo pas ketemu jodoh EO yang kacaubalaubanget-banget, emang wajar dan paham klo emosi kita bisa dimainin sampe ke puncak ubun-ubun. Ada banyak kasus dimana harus berhadapan dengan situasi yang menyebalkan banget-banget, bikin rambut njegrak, dan rasanya pengen koproool saking emosinya. Fiuft. (ini saya sendiri setengah curhat ini ceritanya! Fiuft.)
Nah. Waktu teman saya lagi cerita itu, saya tahu saya ga bener sih. Dilihat dari etika komunikasi antar manusia, emang tindakan saya ga bener.
Ketika seseorang sedang berbicara denganmu, maka dengarkanlah ceritanya hingga tuntas.
Ketika seseorang sedang bercerita padamu, maka jangan potong apa yang sedang dikatakannya.
Intinya, saat sedang ada orang bicara, dengarkanlah dengan segenap hati, pikiran, dan jiwamu.
Iya. Saya paham. Paham banget. Dan, sejauh yang saya ingat, dalam keadaan normal, saya berusaha untuk menjaga etika dan perasaan orang yang percaya untuk cerita sama saya.
Tapi, tapi, semalem saya emosi,
saya ga tahan untuk menahan pendapat saya.
Mungkin karena kondisi saya sendiri lagi gak siap buat mendengarkan.
Dan, mungkin, ini yang paling mungkin, saking saya bersungguh-sungguhnya mendengarkan dan menyimak, saya jadi ngeh dengan detail ceritanya juga. dan, bisa lebih aware dengan satu kata dan satu frasa yg diucapkan teman saya.
"EOnya parah, ga jelas, dan blablabla, dan banci solikin itu ....."
And it just came out.
"Aku gak nyaman kamu nyebut banci itu juga. kalo mau cerita tentang solikin menyebalkan, ya cerita aja solikin menyebalkan. kalo yang menyebalkan itu laki-laki, kamu akan menyebutnya solikin duank kan? bukan laki-laki solikin..."
Diucapkan dengan nada yang tampaknya cukup tinggi. Eww..
Sukses bikin teman saya ga mood untuk melanjutkan ceritanya, karena merasa saya memotong apa yang dia sedang ceritakan. Dan pemotongan saya itu menyebalkan.
Hmm..
Dan, ya, dalam etika komunikasi dan etika curhat, emang kan dipotong saat cerita itu rasanyaa gakk enak banget. Fiuft. Yah..
Jadi, kenapa saya ga bisa menahan pendapat saya sampai teman saya tuntas curhatnya? Lalu, ngomong dengan nada kalem dan baik-baik kalo saya ga nyaman dan ga sepakat sama kata 'banci' yang dia bawa?
Hmm..
Siang ini, dalam perjalanan 18 km menuju ke kawasan Surabaya barat tadi, saya menyadari sesuatu.
Mungkin, reaksi saya yang merasa gak nyaman dengan istilah 'banci' itu adalah karena saya merasa orientasi seksual bukan alasan untuk menilai keprofesionalan kerja seseorang.
Mungkin, reaksi saya yang merasa gak nyaman dengan istilah 'banci' itu adalah karena saya terpengaruh beragam diskusi tentang multikulturalisme, bhineka tunggal ika, human rights, dan isu-isu semacam itu pula.
Mungkin, reaksi saya yang merasa gak nyaman dengan istilah 'banci' yang menyertai solikin adalah karena saya merasa saya punya teman yang 'banci' dan mereka gak menyebalkan kerjanya seperti solikin. jadi, menyertakan 'kebancian' itu rasanya diskriminatif. Dan tidak fair karena seolah memberikan labelling bahwa banci itu gak profesional, padahal kasusnya terjadi pada Solikin.
Hmmm..
Apakah segala kemungkinan itu karena saya aktivis HAM, liberalist, atau orang yang sangat care dengan isu banci atau orientasi seksual?
Rasanya kok ya tidak.
Ya. Tidak.
Hmmm..
Reaksi saya sedemikian keras itu, saya sadari karena saya merasa sakit hati.
Ya. I'm sorry. Rasanya saya mendengar 'banci solikin' itu seperti mendengar 'cina saya'.
Dan. Saya gak nyaman. Saya berasa gak enaknya.
Hmmm.
Saya gak pengen ketika suatu saat saya (terpaksa ternyata) tidak profesional melakukan kerja saya, orang lain protes atas kerja saya itu dengan membawa-bawa kecinaan saya.
Yah.
Begitulah.
Semoga kutipan dari Ahmad Wahib ini menutup cerita saya dengan lebih baik,
"Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia."
(Catatan Harian 9 Oktober 1969)
Surabaya, 3 November 2012
Komentar
Posting Komentar