Das Sollen vs Das Sein (2)


Sudah membaca tulisan das sollen vs das sein saya yang sebelumnya?
Anggap ini adalah kelanjutannya. Dengan konteks yang jauh lebih real. Pertanyaan yang lebih hmm.. apa istilahnya ya? Jujur dan terbuka barangkali?
Dalam konteks hubungan 2 orang. Laki-laki dan perempuan. Sebut saja, kamu dan saya.
Apa yang harus kita lakukan saat harapan saya tentang kamu tidak bertemu dengan kenyataan kamu yang saya idealkan?
Begitupun harapanmu atas saya tidak bertemu dengan kondisi saya yang kamu idealkan?

....

Sedang mikir dalem gitu. Lalu, ada sejenis suara kecil yang berbisik pada saya,
“That’s why people need love to be together. And most of all, that’s why people need a commitment.”
Pada dasarnya memperoleh kenyataan yang sama persis dengan yang kita idealkan itu tidak mungkin, kan? Dalam hubungan dua orang, tidak ada ceritanya, kamu sepenuhnya memenuhi harapan saya. Saya memenuhi sepenuhnya harapan kamu. Tidak ada.

Dan, karena itulah, dua orang manusia yang sama-sama berharap dan sama-sama rentan kecewa ini butuh cinta. Ingat, pertanyaan saya sebelumnya? Apa itu cinta?
Malam ini, saya menemukan salah satu definisinya, cinta adalah kesediaan menerima orang lain apa adanya. Apapun kondisinya. Saat ia sesuai dengan harapan kita. Saat ia ternyata melenceng jauh dari harapan yang sudah dibangun sebelumnya.


searching di google 'commitment', kok nemu gambar ini.. hehe

Dan, karena itulah, dua orang manusia yang sama-sama berharap dan sama-sama rentan ini butuh komitmen. Ya. Saya, saya yang sedang ngomong tentang komitmen. Pembaca yang kenal sarkasme saya, boleh ketawa.. -.-“ Apa itu komitmen?

Status ‘menikah dengan..’ ‘pacaran dengan ..’ barangkali adalah salah satu bentuk komitmen yang kelihatan. Tapi, ya, apakah iya statusmu itu adalah komitmenmu?

Dengan segala cerita dan kisah yang saya dengar dan alami, saya akhirnya percaya bahwa status itu beda dengan komitmen. Oh yeah.
Lantas komitmen itu apa? For me, commitment is when u walk ur talk.

Dalam konteks pernikahan, it’s called wedding vow. Hmm.. Saya selalu suka dengan moment pasangan menjawab, “Yes, I do.” sebagai janji pernikahan mereka. Komitmen pernikahan untuk tetap setia dalam segala keadaan.
Kata-kata seperti, saya berjanji setia dan mengasihi dia dalam untung dan malang, dalam sulit dan senang, dalam sehat dan sakit.  For better. For worse. For richer. For poorer. In sickness or in health. To love and to cherish till death do us part.  

I really love the statement!  *Ini kenapa saya jadi melantur kemana-mana? -.- hehehe..“
...

Yang rada repot adalah dalam konteks hubungan dua orang yang belum menikah, berstatus pun tidak, dimana letak komitmennya ya?
Aku sayang kamu itu, sama dengan komitmen tidak ya?

Uhm. Uhm. Mentok. Sampai sini saya mentok.

Malang, 26 Oktober 2012.

Talk to my self:
*Makanya bagaimana-bagaimanapun yang namanya hubungan laki-laki dan perempuan itu sebelum ada ikatan berjudul pernikahan, adalah hubungan yang rumit. Oooh.. tapi pernikahan pun juga rumit sih..*
*Ah. Sudahlah. Ini pembahasan das sollen dan das sein nya, akhirnya kemana coba?*

*Semoga pembaca yang budiman, cukup cerdas untuk menghubung-hubungkan judul dan isi tulisan ini yang ngglambyar kemana-mana. Hehehehe.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads