The Legend of Guardian: Mrs.P and Me
Dalam rangka bersenang-senang dan merayakan keberhasilan menulis bab 3 sikiripsi,
aku menyewa banyak sekali film..
Well, hm, gak terlalu banyak sih, 4 buah saja, tapi cukuplah buat menghilangkan suntuk, lebih malah, hehehe.. Keempat film itu adalah Inception, Confusius, It’s Complicated, dan The Legend of Guardian.
Dan, baru saja, aku selesai melihat The Legend of Guardian.
Ini adalah film animasi. Aku meminjamnya tanpa rencana, sebatas karena penjaga vcd kebetulan memutar film itu dengan suara keras-keras, dan aku terpesona pada bagian langit merah yang digambarkan indah sekali.
Yah.. Tulisan ini bukan tentang penjaga vcd atau langit merah itu.. Lupakan-lupakan!
Seperti laiknya film animasi lain yang diinspirasi karakter binatang, film inipun bagus.
Aku tidak menyesal meminjam dan menontonnya.
Aku menikmati filmnya, sama nikmatnya seperti ketika melihat Ice age, Brother Bear, Happy Feet, Nemo, Stuart Little, dsb.
Film The Legend of Guardian mengambil karakternya dari burung hantu.
Dan, jangan bayangkan burung hantu yang seram itu. No! No!
Di film ini burung hantu menjadi sangat cantik, cerdas, pemberani, dan menggemaskan.
Tentu, ada burung hantu yang jahat dan licik, tapi secara keseluruhan, burung-burung hantu itu tampil baik dan menarik. Silakan pinjam dan tonton filmnya sendiri, kalau gak percaya, hehe.
Tapi, that is not my point. Tulisan ini bukan tentang burung hantu yang cantik dan pemberani itu.
Jadi, di antara burung-burung hantu itu,
ada satu binatang lain yang diikutsertakan sebagai pemeran film ini.
Perannya sebagai Mrs. P.
Mrs.P adalah pengasuh burung-burung hantu yang setia.
Ia membantu ayah dan ibu burung hantu mengasuh bayi burung hantu, hingga saatnya sang burung hantu belajar terbang. *ternyata terbang itu sulit ya untuk burung-burung kecil, hehe..
Nah, suatu hari, burung hantu asuhan Mrs. P belajar terbang,
tapi ternyata mereka tidak pulang-pulang lagi ke pohon.
Burung hantu yang lucu ternyata hilang. Raib.
Maka, Mrs. P pun mencarinya, sampai ke tempat yang jauh.
Nah, sejauh ini, bagaimana pandanganmu? Mrs. P termasuk peran baik kan, protagonis di film ini?
Bukankah Mrs. P adalah pengasuh bayi burung hantu yang bertanggung jawab?
Hm.. *silakan mengangguk-angguk ^^
Tapi, sepanjang perjalanan film itu, aku sama sekali tidak respek dengan Mrs. P.
Aku mencoba untuk respek dengan Mrs. P.
I really really try. But, I can't.
Dan tahukah apa alasanku?
Huft.. I was shocking when I realize my answer.
My reason to refuse respecting Mrs. P is because Mrs. P is a snake. A soft purple SNAKE.
Dalam nalarku, aku gak bisa menerima seekor ular dijadikan tokoh di dalam film animasi anak-anak.
Lebih-lebih sebagai tokoh yang baik pula?
Kenapa harus ular? Apa gak ada binatang lain yang lebih imut dan lucu yang patut dikarakterkan sebagai penjaga burung-burung hantu kecil yang cantik dan menggemaskan?
Apakah gak ada binatang lain yang lebih dapat merepresentasikan karakter pengasuh yang bertanggung jawab? Kelinci atau monyet atau beruang? Atau binatang lain?
Binatang apa saja boleh, asalkan yang image kebinatangannya baik.
…
Di titik ini, Pikiranku yang tidak bisa menerima ketokohan Mrs. P -karena dia ular- menakutiku.
My thought who can't see the goodness of Mrs. P -because she is a snake: actually a soft purple snake-, start distrubing me.
Apa aku terlalu termakan dengan cerita kitab suci bahwa manusia jatuh dalam dosa karena bujukan seekor ular?
Apa aku terlalu terpengaruh cerita Harry Potter bahwa Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut, yang kejahatannya di dunia penyihir tidak terkatakan, ternyata bisa berbahasa ular dan berteman dengan ular?
Apa aku terlanjur mengkonstruksi dalam otakku dan alam bawah sadarku bahwa ular adalah binatang yang jahat? Simbol iblis? Lambang kejahatan? Hewan yang licik? Dan, berbagai stereotype negatif lainnya.
Hei! Aku merasa tertampar dengan pikiranku ini.
Aku merasa,, hmm,, tidak benar.
Aku sudah menjadi seseorang yang sangat diskriminatif dalam menilai dunia binatang.
Jadi, apa jaminan kalau aku tidak akan menjadi seorang yang diskriminatif dalam dunia manusia? *menyedihkan T.T
Aku tidak bisa melihat kebaikan tokoh Mrs. P karena dia seekor ular.
Biarpun, sebenarnya Mrs. P memiliki kulit berwarna ungu yang lembut dan cantik,
sepanjang film aku tidak bisa melihat kecantikan dan kelembutan ungu kulit itu?
Begitupun dengan wajah Mrs. P yang digoreskan ramah, penuh kepedulian, dan tanggung jawab pada burung hantu kecil asuhannya.
Aku juga tidak bisa melihat kebaikan itu.
Huft..
(aku diam lama sebelum menulis kata dan kalimat-kalimat berikutnya.)
Aku sudah gagal melihat kebaikan Mrs.P karena aku terlanjur terpaku pada bentuknya yang ular.
Dan sepanjang film, aku kesulitan untuk merasa respek dengannya, karena dalam bayanganku, seekor ular tidak mungkin berkarakter protagonis.
Ternyata, aku terdoktrin untuk melihat ular selalu sebagai jahat, atau representasi dari keantagonisan. Jadi, ketika ada ular yang memerankan tokoh baik, betapa sulit menerima itu.
Aku terlanjur menganggap semua ular sama.
Pikiranku ini, stereotipeku ke Mrs. P,
sama saja kan cara kerjanya dengan stereotype yang terjadi di dunia nyata?
Bahwa hitam itu terbelakang,
coklat itu malas,
kuning itu licik.
Bahwa hitam itu bau,
coklat itu penuh pura-pura,
dan kuning itu pelit.
Lalu putih itu… (kok aku susah mencari stereotype negatif tentang warna putih?)
Menghela nafas. I need a help.
Bahkan setelah selesai menulis tulisan ini, aku masih merasa harus tetap bertanya
kenapa pembuat film itu mengambil rupa ular untuk tokoh Mrs. P yang baik?
Help me. I'm a discriminative person.
22 Februari 2011
5.31AM
aku menyewa banyak sekali film..
Well, hm, gak terlalu banyak sih, 4 buah saja, tapi cukuplah buat menghilangkan suntuk, lebih malah, hehehe.. Keempat film itu adalah Inception, Confusius, It’s Complicated, dan The Legend of Guardian.
Dan, baru saja, aku selesai melihat The Legend of Guardian.
Ini adalah film animasi. Aku meminjamnya tanpa rencana, sebatas karena penjaga vcd kebetulan memutar film itu dengan suara keras-keras, dan aku terpesona pada bagian langit merah yang digambarkan indah sekali.
Yah.. Tulisan ini bukan tentang penjaga vcd atau langit merah itu.. Lupakan-lupakan!
Seperti laiknya film animasi lain yang diinspirasi karakter binatang, film inipun bagus.
Aku tidak menyesal meminjam dan menontonnya.
Aku menikmati filmnya, sama nikmatnya seperti ketika melihat Ice age, Brother Bear, Happy Feet, Nemo, Stuart Little, dsb.
Film The Legend of Guardian mengambil karakternya dari burung hantu.
Dan, jangan bayangkan burung hantu yang seram itu. No! No!
Di film ini burung hantu menjadi sangat cantik, cerdas, pemberani, dan menggemaskan.
Tentu, ada burung hantu yang jahat dan licik, tapi secara keseluruhan, burung-burung hantu itu tampil baik dan menarik. Silakan pinjam dan tonton filmnya sendiri, kalau gak percaya, hehe.
Tapi, that is not my point. Tulisan ini bukan tentang burung hantu yang cantik dan pemberani itu.
Jadi, di antara burung-burung hantu itu,
ada satu binatang lain yang diikutsertakan sebagai pemeran film ini.
Perannya sebagai Mrs. P.
Mrs.P adalah pengasuh burung-burung hantu yang setia.
Ia membantu ayah dan ibu burung hantu mengasuh bayi burung hantu, hingga saatnya sang burung hantu belajar terbang. *ternyata terbang itu sulit ya untuk burung-burung kecil, hehe..
Nah, suatu hari, burung hantu asuhan Mrs. P belajar terbang,
tapi ternyata mereka tidak pulang-pulang lagi ke pohon.
Burung hantu yang lucu ternyata hilang. Raib.
Maka, Mrs. P pun mencarinya, sampai ke tempat yang jauh.
Nah, sejauh ini, bagaimana pandanganmu? Mrs. P termasuk peran baik kan, protagonis di film ini?
Bukankah Mrs. P adalah pengasuh bayi burung hantu yang bertanggung jawab?
Hm.. *silakan mengangguk-angguk ^^
Tapi, sepanjang perjalanan film itu, aku sama sekali tidak respek dengan Mrs. P.
Aku mencoba untuk respek dengan Mrs. P.
I really really try. But, I can't.
Dan tahukah apa alasanku?
Huft.. I was shocking when I realize my answer.
My reason to refuse respecting Mrs. P is because Mrs. P is a snake. A soft purple SNAKE.
Dalam nalarku, aku gak bisa menerima seekor ular dijadikan tokoh di dalam film animasi anak-anak.
Lebih-lebih sebagai tokoh yang baik pula?
Kenapa harus ular? Apa gak ada binatang lain yang lebih imut dan lucu yang patut dikarakterkan sebagai penjaga burung-burung hantu kecil yang cantik dan menggemaskan?
Apakah gak ada binatang lain yang lebih dapat merepresentasikan karakter pengasuh yang bertanggung jawab? Kelinci atau monyet atau beruang? Atau binatang lain?
Binatang apa saja boleh, asalkan yang image kebinatangannya baik.
…
Di titik ini, Pikiranku yang tidak bisa menerima ketokohan Mrs. P -karena dia ular- menakutiku.
My thought who can't see the goodness of Mrs. P -because she is a snake: actually a soft purple snake-, start distrubing me.
Apa aku terlalu termakan dengan cerita kitab suci bahwa manusia jatuh dalam dosa karena bujukan seekor ular?
Apa aku terlalu terpengaruh cerita Harry Potter bahwa Dia yang Namanya Tidak Boleh Disebut, yang kejahatannya di dunia penyihir tidak terkatakan, ternyata bisa berbahasa ular dan berteman dengan ular?
Apa aku terlanjur mengkonstruksi dalam otakku dan alam bawah sadarku bahwa ular adalah binatang yang jahat? Simbol iblis? Lambang kejahatan? Hewan yang licik? Dan, berbagai stereotype negatif lainnya.
Hei! Aku merasa tertampar dengan pikiranku ini.
Aku merasa,, hmm,, tidak benar.
Aku sudah menjadi seseorang yang sangat diskriminatif dalam menilai dunia binatang.
Jadi, apa jaminan kalau aku tidak akan menjadi seorang yang diskriminatif dalam dunia manusia? *menyedihkan T.T
Aku tidak bisa melihat kebaikan tokoh Mrs. P karena dia seekor ular.
Biarpun, sebenarnya Mrs. P memiliki kulit berwarna ungu yang lembut dan cantik,
sepanjang film aku tidak bisa melihat kecantikan dan kelembutan ungu kulit itu?
Begitupun dengan wajah Mrs. P yang digoreskan ramah, penuh kepedulian, dan tanggung jawab pada burung hantu kecil asuhannya.
Aku juga tidak bisa melihat kebaikan itu.
Huft..
(aku diam lama sebelum menulis kata dan kalimat-kalimat berikutnya.)
Aku sudah gagal melihat kebaikan Mrs.P karena aku terlanjur terpaku pada bentuknya yang ular.
Dan sepanjang film, aku kesulitan untuk merasa respek dengannya, karena dalam bayanganku, seekor ular tidak mungkin berkarakter protagonis.
Ternyata, aku terdoktrin untuk melihat ular selalu sebagai jahat, atau representasi dari keantagonisan. Jadi, ketika ada ular yang memerankan tokoh baik, betapa sulit menerima itu.
Aku terlanjur menganggap semua ular sama.
Pikiranku ini, stereotipeku ke Mrs. P,
sama saja kan cara kerjanya dengan stereotype yang terjadi di dunia nyata?
Bahwa hitam itu terbelakang,
coklat itu malas,
kuning itu licik.
Bahwa hitam itu bau,
coklat itu penuh pura-pura,
dan kuning itu pelit.
Lalu putih itu… (kok aku susah mencari stereotype negatif tentang warna putih?)
Menghela nafas. I need a help.
Bahkan setelah selesai menulis tulisan ini, aku masih merasa harus tetap bertanya
kenapa pembuat film itu mengambil rupa ular untuk tokoh Mrs. P yang baik?
Help me. I'm a discriminative person.
22 Februari 2011
5.31AM
Komentar
Posting Komentar