Kereta
Kamu selalu mengagungkan keretamu.
Lebih cepat dari roda2 di jalanan.
Dan, beragam orang untuk disapa.
Sewaktu kamu bercerita, saya tertawa.
Menikmati mimikmu.
Membayangkan keretamu.
Sore ini, waktu kamu tak lagi sama.
Saya duduk di gerbong yang mungkin, pernah kamu singgahi.
Pandangan ditebar, dan saya dapati:
Pria paruh baya menatapi kekasihnya, lembut.
Mesra.
Aahhh..
Mengapa kamu tak pernah berbagi cerita yang itu?
Romantisme bersama derak kereta yang bergerak.
Kisah cinta di bangunan rel yang setia bersama.
Meski, getirnya, tak pernah bisa bersua.
Hm.
Sementara ini, biar saya pinjam dulu keretamu.
Ceritamu, tawamu, dan kamu menari-nari di ingatan.
Bolehkah saya mengkhayalkan ini perjalanan kita?
Kamu, dan saya, pesertanya.
Saya membauimu dalam wangi tembakau.
Dalam sibak lembar-lembar buku.
Sesaat saya terperangah.
Sepertinya, kamu memang turut serta.
*kereta membangkitkan sisi romantis saya, ini hasilnya.
14 Maret 2011
Malabar. Malang-Jogja.
Lebih cepat dari roda2 di jalanan.
Dan, beragam orang untuk disapa.
Sewaktu kamu bercerita, saya tertawa.
Menikmati mimikmu.
Membayangkan keretamu.
Sore ini, waktu kamu tak lagi sama.
Saya duduk di gerbong yang mungkin, pernah kamu singgahi.
Pandangan ditebar, dan saya dapati:
Pria paruh baya menatapi kekasihnya, lembut.
Mesra.
Aahhh..
Mengapa kamu tak pernah berbagi cerita yang itu?
Romantisme bersama derak kereta yang bergerak.
Kisah cinta di bangunan rel yang setia bersama.
Meski, getirnya, tak pernah bisa bersua.
Hm.
Sementara ini, biar saya pinjam dulu keretamu.
Ceritamu, tawamu, dan kamu menari-nari di ingatan.
Bolehkah saya mengkhayalkan ini perjalanan kita?
Kamu, dan saya, pesertanya.
Saya membauimu dalam wangi tembakau.
Dalam sibak lembar-lembar buku.
Sesaat saya terperangah.
Sepertinya, kamu memang turut serta.
*kereta membangkitkan sisi romantis saya, ini hasilnya.
14 Maret 2011
Malabar. Malang-Jogja.
Komentar
Posting Komentar