How to make people DO what u want...

Hari ini saya belajar satu ilmu baru.
Ilmu sederhana sebenarnya, yang mungkin juga bisa ditemui lewat interaksi dengan teman, orang tua, kekasih, musuh, dan beragam pihak lainnya.
Tapi, sayangnya, mungkin saya gak cukup care sebelumnya, dengan pentingnya ilmu ini.

Jadi, hari ini, saya seperti dapat penerangan (jreng jreng..),
tentang how to make people do what u want.

Pagi itu, kantor masih lumayan hiruk pikuk,
suasana pagi yang ribut dan rame seperti biasa.
Orang saling berteriak. Orang saling bicara. Orang bertelepon. Orang-orang sibuk dengan apa yang disebut jobdesk nya masing-masing. (baca: don't have enough time to care dengan job desk orang lain.)

Nah, di pagi yang seperti itu, Bos besar saya,
(*sebut saja beliau demikian, karena gak enak juga kalo disebut saja Bunga, Mawar, Melati.. hehe, Beliau kan bukan tokoh di koran-koran kriminal),
memanggil saya dan rekan-rekan.
Enam orang jumlah kami. Lima diantaranya baru (saya jelas termasuk disitu).
"Kalian sudah tahu target kalian bulan ini?" kata bos besar.
Kami tolah-toleh. Lirik-lirikan.
Kalo diinget2 lagi, sebenarnya gak jauh beda sama murid SD yang dipanggil kepala sekolahnya.
Segan. Takut. (Batasnya tipis euy..)

....
Bos besar pagi itu memanggil kami ke ruangannya, karena target call kami masih di zona merah. Belum ada yang berada di zona hijau.
Bayangin aja deh, target callnya 170 dalam bulan Agustus itu.
Akhir bulan sudah kurang 4 hari.
Namun, call yang sudah kami raih baru 50% nya saja. Kurang malah.
Nah, jadi ketika kami dipanggil ke ruangannya. Pertama-tama, kami (lebih tepatnya: aku) udah siapin mental buat diomelin. Dimarahin.Disalahin. Udah prepare kalo bos besar mencak-mencak.
*yah, emang kinerja gak memuaskan gitu lo, pantas kalo dimarahin, wkwkw..

Tapi,,,

Kenyataannya berbeda kawan-kawan. Out of my mind. Di luar bayanganku.
Beliau gak marah. Beliau gak mencak-mencak. Beliau gak nyalahin.
Beliau ngomel seh, hehe, tapi dengan nada yang ramah dan geli-geli bercanda.
(*bisa gak ngebayanginnya, hehe,,soalnya aku juga sulit mendeskripsikannya.)

Yang dilakukan bos besar pagi itu adalah Memotivasi kami. See? Lihat?
Bos besar bilang, dengan logat Padangnya yang khas,
 "Hei kalian.. Gemes saya.. Ini call kalian! Ini target kalian Ini Duit! Duit. Insentif.! Kalo sales gak masuk, tapi call masuk, masih ada insentif untuk kalian. Ini bukan untuk saya. Ini uang kalian. Ini hak kalian. Kalian gak mau duit apa? Jadi ayo kejar target kalian. Kejar!"

Hahahaha.. Sampai bagian pertanyaannya yang terakhir, kami semua ketawa..

Saya mungkin yang ketawanya paling keras. Paling lama.
Efek ngikik itu masih ada, sampai sekarang, waktu menulis ini.
Gimana ya? Hm..
Saya mungkin setengah menertawakan pertanyaan (*retoris banget) bos besar.
Saya mungkin setengah menertawakan kesalahan kami yang sudah takut2 mengira akan diterkam.
Tapi, ada yang lebih saya tertawakan dibandingkan semuanya itu..

Saya ketawa. Ngakak. Ngikik.
Karena menurut saya, Bos besar sangat cerdas menyentuh, menohok, tepat di titik lemah dan kebutuhan anak buahnya ini.

Beliau punya pilihan dan kuasa buat memaksa kami memenuhi target call dengan mengancam.
Beliau bisa juga marah sama kami, bikin suasana gak enak, supaya kami memenuhi target kinerja kami.
Tapi, Bos besar sadar, bahwa bukan dengan kemarahan, atau perasaan takut dan segan, beliau harus memainkan kami.

Beliau memilih untuk memerankan perannya sebagai bos besar dengan apik.
Cantik.
Beliau bermain dengan apa yang saya sebut leadership.
Leadership yang positif. 
Auranya cerah. Membahagiakan. Membangkitkan.

Bos besar memilih menjadi leader yang motivator.
Ia, memainkan motif kami. Kepentingan kami. --> dalam hal ini: Duit. (*selain demi cinta keluarga, blablabla, emang ada motif yang lebih besar dari itu bagi orang bekerja? (pandangan umum, 2011))
Lihat! Dan Baca! Motif Kami. Bukan motifnya, bukan demi tujuannya.

Jika ia memaksa kami mencapai target dengan marah, hal itu akan lebih terasa sebagai motifnya.
Jika ia memaksa kami mencapai target dengan dalih itu keinginannya sebagai seorang bos, hal itu akan lebih terasa sebagai egonya.
Jika ia menggunakan taktik yang demikian, GUBRAK!!
Kami pasti gak mau kerja sesungguh jika motif kami yang dimainkan..

(Gak percaya? Coba jujur deh, dan bayangkan jika anda yang ada di situasinya..)

Nah, jadi begitulah.

Pelajaran yang saya peroleh dari bos besar.

Ending ceritanya, kami keluar dari ruangan bos besar dengan sumringah. Semangat.
Segera bergegas berangkat mengejar kekurangan 50% target itu dalam 4 hari.
4 hari yang bikin gulung-gulung dan guling-guling, karena lipat ganda beban yang ditanggung.
Tapi, toh 4 hari itu dijalani dengan berseri-seri.
Sebab, motivasi kami jelas. Motivasi kami sudah dipertegas.


Hasilnya: alhamdulilah.
100% target is achieved. *lebih malah, hehehe..






RANGKUMAN:

Bos besar hari itu mengajarkan pada saya satu hal.
Ilmu sederhana, untuk membuat orang melakukan apa yang ia inginkan.
Satu kalimat buat merangkumnya, bicaralah bahwa,
"Jika Anda melakukan ini, ini adalah BAGI KEPENTINGAN ANDA. Bagi keuntungan diri anda. Ini bukan tentang saya. Ini tentang anda memperoleh hak anda. Saya semata hanya ingin anda memperoleh yang terbaik."

Niscaya, dengan menerapkan (salah satu) pola leadership ala bos besar itu,
orang akan dengan rela hati melakukan apa yang anda inginkan.
Monggo dicoba, hehehe.. (*karena saya juga hendak belajar menerapkannya.)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Das Sollen vs Das Sein (1)

Main Kata (1) : MIMPI

Date a Girl Who Reads