Audit
Datang tak diundang.
Pulang terpaksa diantarkan.
Yup! Itulah audit
yang mendadak kemarin datang ke kantor. Dan, well, yah, membuat kami sedikit
gelagapan.
Tiba-tiba mereka
menampakkan dirinya, dan membuat admin keuangan kantor segera mewanti-wanti
kami untuk mengamankan jejak transaksi keuangan masing-masing.
Yang semula
tenang-tenang saja, hari itu berhitung.
Yang awalnya santai
aja, hari itu mengumpulkan kembali remah-remah nota.
Jejak keuangan di
rekening koran ditilik dan diingat hal ikhwal awalnya.
Yah. Audit. Apakah audit
sedemikian menyeramkan sehingga rasa-rasanya sekantor mendadak siaga 1? Sebenarnya, kalo
saya ingat-ingat rasanya. Audit gak
sebegitu-begitu amat. Auditor semata
menanyakan dan meminta pertanggungjawaban atas segala transaksi yang terjadi
dalam rekam jejak keuangan kita. Memang, ada beberapa
teman yang terpaksa berakhir riwayat ceritanya di perusahaan, karena
ditemukannya penyelewengan ataupun note-note aneh yang tidak sesuai dengan
prosedur seharusnya. Tapi, sejauh segala
sesuatunya sesuai dengan yang seharusnya, tentu semestinya, tidak perlu ada yang
dikhawatirkan berlebihan dari proses audit itu sendiri.
Sepanjang 2 tahun
ini bekerja, hari ini adalah kali kedua saya diaudit. Dulu, audit pertama
saya cukup menegangkan. Tidak, saya tidak menyelewengkan apapun. Namun,
transaksi keuangan yang rumit dan berliku, membutuhkan waktu lama untuk
ditelusuri satu persatu. Auditor saya kala
itu baru mengaudit seorang saya. Sedangkan, auditor
di ruang sebelah sudah mengaudit 3 orang. Saya yang diaudit
saat itu tidak merasa apa-apa. Tapi, cukup membuat dag dig dug teman-teman yang
selesai duluan. Apa pasal saya diaudit sedemikian lama, tapi mereka cepat saja?
Hari ini, audit
kedua saya. Jauh lebih mulus dan lancar daripada audit pertama itu. Walaupun admin
keuangan wanti-wanti, dan pak bos memberi peringatan lebih, "Kamu bawa
duit kantor banyak banget di rekeningmu, lo.." Tapi, syukurnya,
audit hari ini mulus, lancar, aman terkendali.
Duit kantor yang
konon katanya lebih banyak ngendon di rekening saya, daripada rekening temen
lain tidak berkorelasi positif dengan lama waktu audit. Saya cepat kelar
auditnya. Cepat selesai. Cepat
lega. Kali ini, bisa bersimpati dengan teman-teman yang baru pengalaman audit
pertamanya, dan yeah, cukup makan waktu lama.
Audit.
Di waktu makan malam
tadi saya sempat mikir, Kapan ya terakhir
kali saya mengaudit diri saya sendiri?
Pikiran saya? Perasaan saya? Hidup saya?
Pikiran saya? Perasaan saya? Hidup saya?
Apakah rekam jejak
hidup, perasaan, dan pikiran itu sudah berjalan seperti seharusnya?
Pertanggungjawaban
atas segala hal ikhwal transaksi keputusan dan pilihan yang saya ambil, apakah
membawa minus atau surplus atau impas bagi perkembangan pribadi saya?
Audit. Jika proses audit di
kantor ditanggapi dengan sedikit gelagapan, dan barangkali juga sedikit
ketakutan, karena dikhawatirkan auditor akan menemukan sesuatu yang tidak
benar, bagaimana dengan
proses audit diri saya? Apakah secara naluriah kita memang merasa khawatir dengan proses kross cek ulang itu, bahkan jika kita sebenarnya tidak melakukan apa-apa? Karena secara alamiah, kita cukup sadar diri bahwa kita rentan melakukan hal yang salah?
Audit.
Bukankah untuk audit
diri itu, kita sendirilah auditornya?
Kita sendirilah yang
dituntut berani untuk memilah, menelaah, mengkoreksi setiap transaksi keputusan
dan pilihan yang kita ambil.
Sudah seberapa
beranikah saya menjalankan peran sebagai auditor yang jujur, berani, dan tegas
dalam proses audit diri saya sendiri ini?
Cukup berani untuk
memilah transaksi keputusan mana yang harus saya pertanyakan lebih kritis.
Cukup tegas untuk
memberi note, ataupun sanksi atas kemelencengan yang dilakukan.
Dan,
Cukup besar hati
untuk tidak mencari-cari kesalahan diri sendiri, serta mengakui
segalanya telah berlangsung sesuai dengan yang seharusnya?
Ya…
Kapan terakhir kali
melakukan audit diri sendiri?
…
Surabaya, 8 Oktober 2013
...
Komentar
Posting Komentar