Edisi Kangen MS. Word: Filosofi Sepatu (2)
Anggap saja tulisan ini sebuah percobaan.
Yup! Percobaan sekaligus pertumpahan rasa rindu..
Rasanya seperti sudah bertahun-tahun saya tidak menulis. Mengetik. Mengeluarkan uneg-uneg. Main kata, olah rasa. Menarikan jari-jari ini di atas tuts-tuts keyboard yang bunyinya saya suka. Maupun, dalam goresan kertas yang sret sretnya boleh dibilang indah juga.
Namanya juga percobaan, sekaligus pertumpahan.
Malam ini saya pengen sekali menulis, mengetik. Tentang apa saja, tentang siapa saja. Rasanya saya seperti hendak menumpahkan semuanya. Dan, saya memang sedang ingin menumpahkan semua. Sekuat saya. Semampu saya. Semuak saya.
Jadi, maafkan jika tulisan ini entah akan seperti apa bentuknya. Mungkin akan sangat tidak terstruktur. Sepertinya akan amburadul. Entahlah. Saya sedang hendak menulis bagi diri saya sendiri. Memuaskan dahaga saya atas permainan kata-kata yang tanpa henti. Mungkin saya butuh semua ini sebagai obat. obat bagi perasaan-perasaan kehilangan, kerinduan, amarah, bimbang, dan ketakutan, karena saya selama beberapa waktu ini spertinya sudah kehilangan arah. Mungkin saya butuh semua ini sebagai terapi. Terapi untuk menemukan siapa saya dan apa yang saya mau.
Aduh!
Topik kata-kata saya mulai berat. Dan sepertinya saya belum sanggup untuk menulis dan berhadapan dengan diri saya sendiri dalam tulisan saya ini.
Aaargghhh..
Mari ganti topik saja ya..
Supaya saya tetep punya cukup energi untuk memuntahkan kata-kata disini.
Ada beberapa ide yang sempat terlintas beberapa kali selama beberapa bulan ini. Tapi saya selalu merasa tidak punya waktu. Kadang merasa terlalu letih untuk merangkainya disini.
Jadi, dalam kesempatan yang aneh ini saja, saya mau menuliskannya.
Semoga lain kali bisa digarap dengan bentuk format yang lebih serius, lebih rapi, lebih hening.
Scripta manent, verba volent.
Jadi, ide saya yang pertama, adalah tentang sepatu. Beberapa bulan ini saya mencoba berkiblat pada Carrie Bradshaw yang menyukai sepatu2 cantik, haha,, Saya memang suka.
Saya menikmati moment pencarian, yang akhirnya mempertemukan saya pada koleksi sepatu-sepatu cantik yang berjejer di rak saya sekarang.
Dan dalam proses perburuan sepatu- sepatu itu, saya selalu kepikiran,
bahwa mungkin cinta dan juga kerja itu juga seperti sepatu.
Sekalinya ketemu yang modelnya cantik, ukurannya tidak pas.
Sekalinya ketemu yang ukurannya pas, bentuknya tidak cantik.
Sekalinya ketemu yang pas dan juga menarik, tapi kok memakainya tidak nyaman.
Sekalinya ketemu yang cantik, nyaman, dan pas, kok harganya nguras tabungan saya, hahaha..
Susah.
Betapa sulitnya menemukan sepatu sempurna.
Walaupun yang namanya sempurna itu, juga sebenarnya relatif alasannya.
Pas, cantik, dan nyaman, standar saya toh sangat mungkin berbeda dengan orang lainnya.
Barangkali definisi sempurna yang seharusnya adalah seberapa banyak dan berani saya berhenti menggunakan patokan tentang pas, cantik, dan nyaman itu, lalu mengikuti kata hati saya. Kesempurnaan adalah ketika saya bisa berkompromi dengan salah satu faktor yang mungkin memang tidak pas, dan menjadikan itu sebagai kecukupan saja. *hhhmmm,,
Berat membahasakan hal yang esensial seperti ini, saat sekarang saya sedang terapi menulis tanpa henti.
Intinya adalah sepatu pilihan saya, artinya sepatu yang akhirnya saya terima, dan saya nyatakan sempurna, sebenarnya adalah sepatu2 yang mungkin punya kekurangan disana disini, tapi saya mengkompromikan itu dengan menerima kesempurnaannya dengan segala kekurangannya..
*Nah lho bingung kan?
*Iya, lain kali harus dirangkai dengan kata2 yang lebih bijak dan disertai pertimbangan.
Dan saat saya pada satu titik menemukan spatu yang sempurna itu, sempurna yang dapat saya banggakan segala kemenarikannya, sekaligus dapat saya terima kekurangannya.
Waktu saya ketemu sepatu sempurna itu, saya akan mengejarnya.
Sampai dapat. *seperti saya mengejar sepatu biru berhak 3cm kesayangan saya.
Dan mungkin begitu juga tentang cinta maupun tentang kerja.
Saat saya sudah menemukan yang sempurna, saya pasti akan mengejarnya..
Kejar sampai dapat.
*Sayangnya saat ini, dalam hal kerja maupun cinta, saya belum menemukan 'sepatu' sempurnanya.
Yup! Percobaan sekaligus pertumpahan rasa rindu..
Rasanya seperti sudah bertahun-tahun saya tidak menulis. Mengetik. Mengeluarkan uneg-uneg. Main kata, olah rasa. Menarikan jari-jari ini di atas tuts-tuts keyboard yang bunyinya saya suka. Maupun, dalam goresan kertas yang sret sretnya boleh dibilang indah juga.
Namanya juga percobaan, sekaligus pertumpahan.
Malam ini saya pengen sekali menulis, mengetik. Tentang apa saja, tentang siapa saja. Rasanya saya seperti hendak menumpahkan semuanya. Dan, saya memang sedang ingin menumpahkan semua. Sekuat saya. Semampu saya. Semuak saya.
Jadi, maafkan jika tulisan ini entah akan seperti apa bentuknya. Mungkin akan sangat tidak terstruktur. Sepertinya akan amburadul. Entahlah. Saya sedang hendak menulis bagi diri saya sendiri. Memuaskan dahaga saya atas permainan kata-kata yang tanpa henti. Mungkin saya butuh semua ini sebagai obat. obat bagi perasaan-perasaan kehilangan, kerinduan, amarah, bimbang, dan ketakutan, karena saya selama beberapa waktu ini spertinya sudah kehilangan arah. Mungkin saya butuh semua ini sebagai terapi. Terapi untuk menemukan siapa saya dan apa yang saya mau.
Aduh!
Topik kata-kata saya mulai berat. Dan sepertinya saya belum sanggup untuk menulis dan berhadapan dengan diri saya sendiri dalam tulisan saya ini.
Aaargghhh..
Mari ganti topik saja ya..
Supaya saya tetep punya cukup energi untuk memuntahkan kata-kata disini.
Ada beberapa ide yang sempat terlintas beberapa kali selama beberapa bulan ini. Tapi saya selalu merasa tidak punya waktu. Kadang merasa terlalu letih untuk merangkainya disini.
Jadi, dalam kesempatan yang aneh ini saja, saya mau menuliskannya.
Semoga lain kali bisa digarap dengan bentuk format yang lebih serius, lebih rapi, lebih hening.
Scripta manent, verba volent.
Jadi, ide saya yang pertama, adalah tentang sepatu. Beberapa bulan ini saya mencoba berkiblat pada Carrie Bradshaw yang menyukai sepatu2 cantik, haha,, Saya memang suka.
Saya menikmati moment pencarian, yang akhirnya mempertemukan saya pada koleksi sepatu-sepatu cantik yang berjejer di rak saya sekarang.
Dan dalam proses perburuan sepatu- sepatu itu, saya selalu kepikiran,
bahwa mungkin cinta dan juga kerja itu juga seperti sepatu.
Sekalinya ketemu yang modelnya cantik, ukurannya tidak pas.
Sekalinya ketemu yang ukurannya pas, bentuknya tidak cantik.
Sekalinya ketemu yang pas dan juga menarik, tapi kok memakainya tidak nyaman.
Sekalinya ketemu yang cantik, nyaman, dan pas, kok harganya nguras tabungan saya, hahaha..
Susah.
Betapa sulitnya menemukan sepatu sempurna.
Walaupun yang namanya sempurna itu, juga sebenarnya relatif alasannya.
Pas, cantik, dan nyaman, standar saya toh sangat mungkin berbeda dengan orang lainnya.
Barangkali definisi sempurna yang seharusnya adalah seberapa banyak dan berani saya berhenti menggunakan patokan tentang pas, cantik, dan nyaman itu, lalu mengikuti kata hati saya. Kesempurnaan adalah ketika saya bisa berkompromi dengan salah satu faktor yang mungkin memang tidak pas, dan menjadikan itu sebagai kecukupan saja. *hhhmmm,,
Berat membahasakan hal yang esensial seperti ini, saat sekarang saya sedang terapi menulis tanpa henti.
Intinya adalah sepatu pilihan saya, artinya sepatu yang akhirnya saya terima, dan saya nyatakan sempurna, sebenarnya adalah sepatu2 yang mungkin punya kekurangan disana disini, tapi saya mengkompromikan itu dengan menerima kesempurnaannya dengan segala kekurangannya..
*Nah lho bingung kan?
*Iya, lain kali harus dirangkai dengan kata2 yang lebih bijak dan disertai pertimbangan.
Dan saat saya pada satu titik menemukan spatu yang sempurna itu, sempurna yang dapat saya banggakan segala kemenarikannya, sekaligus dapat saya terima kekurangannya.
Waktu saya ketemu sepatu sempurna itu, saya akan mengejarnya.
Sampai dapat. *seperti saya mengejar sepatu biru berhak 3cm kesayangan saya.
Dan mungkin begitu juga tentang cinta maupun tentang kerja.
Saat saya sudah menemukan yang sempurna, saya pasti akan mengejarnya..
Kejar sampai dapat.
*Sayangnya saat ini, dalam hal kerja maupun cinta, saya belum menemukan 'sepatu' sempurnanya.
Komentar
Posting Komentar